Tuesday, April 28, 2015

Sepak Bola Romantisme, Buatlah Kenangan Baru

Sebuah kenangan manis akan selalu diingat oleh setiap orang. Namun bukan berarti harus tejebak dalam romantisme semu kenangan tersebut. Sebuah riset yang terdapat dalam Smithsonian Magazine mengatakan manusia akan cenderung mengulang kenangan manis tersebut dalam otaknya dan juga dalam sebuah percakapan dengan orang lain. Hal yang lumrah ini pun terjadi dalam dunia sepak bola. Bagaimana sebagian besar insan sepak bola Indonesia ‘menjebak’ dirinya dalam semua ingatan memudar tentang bagaimana hebatnya tim bola pada masa lampau. 

Tak kurang dari kenangan pernah bertanding di Piala Dunia 1938 (tergabung dalam Hindia Belanda), berhasil menahan imbang Uni Soviet di Olimpiade 1956, raihan medali perak Asian Games 1966, serta prestasi terakhir dengan merebut emas Sea Games 1991. Sebuah prestasi yang terjadi pada 24 tahun lalu. Ya, dua puluh empat tahun yang lalu! Hal tersebut masih terlalu manis untuk dibicarakan, entah sebagai pelipur lara atau memang tak ada lagi hal membanggakan yang dapat diperbincangkan. Saat bertemu dengan beberapa orang yang hidup pada masa tahun 1970an atau 1980an, mereka akan berkisah hal yang sama. Orang-orang tersebut akan sangat bersemangat untuk membuka kenangan mereka. Namun raut wajah mereka akan berubah 180 derajat ketika ditanya dengan kondisi sepak bola Indonesia terkini.

Pun demikian dengan kondisi dari fans salah satu besar Eropa, Liverpool FC, misalnya. Bagi fans lawan, mereka akan mencibir bagaimana pendukung Si Merah selalu membicarakan prestasi masa lalu. Namun untuk penggemar klub yang terakhir kali juara kompetisi liga domestiknya pada 25 tahun yang lalu itu, tentu akan lain sudut pandangnya. Memori soal kedigdayaan Liverpool pada era 1970an dan 1980an yang mungkin hanya dapat dibaca dan dilihat dari tayangan ulang video tersebut, tetap menjadi bahasan indah. Dan juga mereka masih dapat berkilah dengan  tiga gelar tahun 2001, gelar Liga Champions tahun 2005, Piala FA 2006 serta yang terakhir juara Piala Liga 2012 lalu. Masih ada secercah harapan dan kebanggaan yang dapat ditunjukkan.

Pergantian beberapa manajer dalam enam tahun terakhir menunjukkan adanya kemauan untuk mengembalikan masa-masa hebat tersebut dalam tubuh tim yang bermarkas di Anfield itu. Bahkan peralihan kepemilikan pun sempat membuat hati suporter berbunga-bunga dengan segala harapan.

Kemiripan dalam hal memori dari kedua contoh di atas adalah salah satu bukti bagaimana romantisme memori dalam dunia hijau masih berlaku. Tinggal bagaimana mengadopsi kenangan tersebut menjadi realita yang tidak semu untuk kedepannya. Jangan memusnahkan impian dengan segala intrik kepentingan pribadi maupun golongan tertentu. Kemajuan sepak bola ditunggu untuk mematri ingatan manis yang baru untuk masa depan nanti.a