Mengurus Sendiri KTP Pindahan Mengikuti Prosedur Resmi Harus Sabar Menghadapi Oknum Kelurahan dan Kecamatan

Karena satu dan lain hal, baru sekarang KTP istri pindah alamat saya (Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat). Surat-surat di tempat asal KTP istri udah diurusin. Cuma ada 2 problem (so far) yang timbul belakangan.
Hari ini saya ke kelurahan tempat tinggal saya bersama istri untuk mengurus pindahan KTP tersebut. Sampai disana ternyata dibilang surat pindahnya ada yangg kurang, yaitu tanda tangan dari kantor kecamatan asal KTP istri saya (Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur).
Padahal disurat itu tidak ada kolom “mengetahui” atau apapun untuk tanda tangan kecamatan. Tetapi karena dibilang itu wajib ditanda tangani dan merupakan masuk aturan resmi, baiklah saya akan urus ke kantor kecamatan tersebut.
Walaupun sebenernya bukan kesalahan kita, karena orang kelurahan asal KTP tidak memberi tahu apa-apa mengenai tanda tangan ini.
Karena sudah  mepet jam  makan siang, percuma juga saya pergi, karena tahu sendirilah bagaimana perilaku oknum-oknum aparat negara mengenai jam istirahat. Jam 13 kurang, saya berangkat ke kecamatan tersebut. Setelah bingung memutar sana-sini untuk mencarai dimana letaknya,  baru ketemu kantor kecamatannya. Ternyata lagi dibongkar habis. Kantornya pindah ke rumah tidak jauh dari situ.  Samapi disana, masih agak berantakan memang (bukan agak lagi sih). Tanya di depan sama orang yang lagi duduk-duduk, disuruh langsung ke dalam.
Nah, di dalam saya tanya lagi di mana bagian yang mengurusi tanda tangan itu. Suratnya diminta (saya bundel sekalian dengan persyaratan lainnya: fotokopi >> buku nikah, ktp muna, ktp gue). Disuruh nunggu. 15 menit nunggu, tidak ada perkembangan apa-apa.
Saya lalu tanya ke pegawai kecamatan (PK) tersebut,
Saya: “masih lama, pak?” ..
PK: “ini yang tanda tangan gak ada semua”.
Saya: “lah emang ada berapa orang?”
PK: “ada 4 orang, camat, wakil camat, sekretaris camat, (1 lagi gue lupa dia bilang apa gitu). lagi pada repot ngurusin urusan pindahan ini”
Saya: “lah kenapa gak diurusin sebelum pindah, jadi bisa langsung kerja lagi”
PK: “gak bisa pak..”
Saya tidak melanjutkan lagi, sudah terlanjur malas.
Tunggu punya tunggu, hampir 1 jam dari tibanya saya di tempat itu. Akhirnya surat itu ditanda tangani juga. Saya dipanggil buat ambil surat tersebut, sambil dia minta uang.
Saya: “duit apaan pak?”
PK: “ya biasalah… buat ini itu (sambil nunjukin kantor, mungkin maksudnya “renovasi”)
Saya: “ini gratis kan pak?”
PK: “iya”
Saya: “oke..terima kasih” (sambil saya ambil berkas tersebut dan gue jalan tanpa kasih muka lagi)
Sebenernya ingin saya panjangin persoalan yang dia minta uang, akan tetapi karena saya terburu-buru mau langsung ke kelurahan Petamburan, jadinya malas deh. Lama lagi nanti.
Problem pertama: tanda tangan kecamatan asal pindahan.

Sampai di rumah, langsung saya  bawa istri ke kelurahan. Dengan harapan bisa langsung diproses dan foto untuk KTP.
Ternyata saya salah. Muncul problem kedua. Setelah berkas istri diperiksa, ternyata KTP-nya sudah habis masa berlakunya dari tahun 2010.
Orang kelurahan (OK) tersebut bertanya.
OK: “ktp nya mati nih. mesti bayar denda”
Saya: “oh kena denda ya? berapa pak denda resminya?”
OK: “10rb. tapi itu bapak urus sendiri ke walikota. kalo mau dibantuin, 30rb.”
Saya: “mahal bener. saya urus sendiri aja pak. apa yg saya butuhin buat ngurus?”
OK: “surat pengantar RT dan RW, trus bawa kemari minta pengantar (kalo gak salah) untuk PM1. bawa ke walikota”
Saya: “itu surat yg dari kelurahan, bayar gak pak? berapa? resmi apa kagak”
OK: (sempet diem beberapa saat) “wah saya gak tau. tanya aja sendiri ke dalam”
Saya: “lho gimana pak, bapak kan orang kelurahan. masa gak tau. bapak harusnya tau info gitu. jadi, bayar apa nggak nih pak? berapa kalo bayar resmi?”
OK: “saya gak tau, tanya sendiri deh. beda bagian soalnya.”
Saya: “baiklah pak, saya ini mo urus semuanya secara resmi menurut aturan pemerintah. termasuk biayanya (disini gue tekankan kalimatnya). skarang saya ke rt-rw”
Pergilah saya bersama istri ke rumah Bapak RT untuk minta dibuatkan surat pengantar (ke RT dulu, baru ke RW). Ternyata suratnya sedang kosong/habis (entah benar apa tidak). Saya disuruh kembali lagi  jam 5 sore. Dalam hati, “Ah kampret!, gue buru2 biar bisa kekejar semua hari ini, ternyata gak bisa juga“.
Dengan tidak lupa saya curhat ke Bapak RT mengenai problem-problem tadi. Dan juga bahwa saya tidak mau bayar apapun ke pihak kelurahan (dan kantor walikota), kecuali pembayaran resmi (dengan harapan, RT tidak minta uang lelah).
Problem kedua: KTP habis masa berlaku, harus diurus di kantor walikota.
Rencananya, saya besok pagi mau melanjutkan lagi ke kelurahan dan walikota. Saya penasaran, seberapa sulitnya untuk mengikuti prosedur resmi tanpa keluar uang sepeserpun diluar biaya resmi.
Nanti akan saya update lagi jika ada perkembangan baru.

———————

Update:

Jumat, 8 Juli 2011:
Sekitar jam 9 pagi ke kelurahan dengan maksud meminta surat pengantar untk ke walikota agar dapat bayar denda ktp masa berlaku habis.
Ketemu salah satu pegawai kelurahan, serahkan berkas (termasuk surat pengantar yg dari RT/RW yg diminta). Saat akan dibuatkan, tidak beberapa lama saya dipanggil oleh pegawai tersebut.

Pegawai kelurahan (PK): “pak, suratnya gak bisa dibikin nih. Bapak dipanggil oleh bapak lurah (BL).”
Saya: “kenapa emang?”
PK: “gak tau nih. Masuk aja ketemu lurah”

Saya masuk dan bertemu bapak lurah. Setelah menerangkan maksud keinginan saya soal pembuatan ktp pindahan untuk istri saya, lalu ia berkata:

BL: “ini harusnya langsung foto aja dulu. Gimana mo bayar denda kalau ktp nya masih jakarta timur.”

Lalu saya jelaskan kronologis kejadian pada hari kamis.
Ia melanjutkan, (tapi bukan ke saya langsung)

BL: “warga jangan dibikin bingung dong. Kasian. Pak haji mana? (Bertanya ke pegawai kelurahan lainnya).
PK: “lagi ada rapat di kecamatan pak”

Pak lurah berkata ke saya,

BL: “ya sudah, tungguin dulu deh pak”
Saya: “oke”

Setelah menunggu lebih dari 1/2 jam, saya masuk lagi bertemu pak lurah.

Saya: “jadi gimana pak?”
BL: “pak haji nya blom datang nih. Gini aja deh, tinggalin dulu aja berkasnya ke saya. Nanti saya konsultasikan sama pak haji”
Saya: “kapan saya balik lagi? Sore ini?”
BL: “senin aja”
Saya: “oke pak. Senin pagi saya balik. Ngomong2, pak haji itu namanya siapa?”
BL: “Haji Mulyandi”
Saya: “jabatannya apa pak?”
BL: (sempat terdiam) “urusan ktp. Bagian kependudukan”
Saya: “ok, terima kasih pak”

 

Senin, 11 Juli 2011:

Pukul 10:15 saya tiba di Kantor Kelurahan. Maksud hati bertemu kembali Bapak Lurah, ternyata beliau sedang keluar. Ada acara di Rusun (Rumah Susun) Petamburan. Lalu saya menanyakan keberadaan Bapak Haji Mulyandi (BHM) dari bagian yang mengurusi kependudukan (KTP) yang hari kamis kemarin meminta uang Rp. 30.000 ke saya untuk pembayaran denda, ternyata ada di tempat. Langsung saja saya menemuinya. Rupanya beliau sudah mengenali saya.

 

BHM: “urusan ktp ibu muna ya?”
Saya: “betul pak. jadi gimana?”
BHM: “suratnya sudah dibikin, tinggal tanda tangan pak Lurah”
Saya: “surat apa pak?”
BHM: “surat untuk ke walikota. waktu jum’at kemarin saya kembali sore ke kantor, bapak lurah sudah tidak ada. saya rapat di kecamatan”
Saya: “oooh itu. iya pak. saya nunggu bapak pagi, tidak ada. kata pak lurah, suruh tinggalin aja berkasnya”
BHM: “iya. ini tinggal tunggu tanda tangan pak lurah. anak buah saya lagi ‘kejar’ ke Rusun buat minta tanda tangan”
BHM: “tapi, begini pak. ini juga kalau bapak ikhlas ya. bayar denda ke walikota kan 10.000, nah kemarin saya bilang kan kalau mau ‘dibantu’ bayar 30.000. gimana kalau sekarang bapak bayar 20.000 saja untuk ‘dibantu’. itu juga kalau bapak ikhlas”
Saya: “nggak pak. saya mau urus sendiri langsung ke walikota”
BHM: “baiklah kalau gitu. tunggu di depan ya. nanti kalau sudah dapat tanda tangan pak lurah, dipanggil”
Saya: “oke pak”
Saya ke depan, merokok dan menunggu selama kurang lebih 15 menit. Lalu saya dipanggil.
BHM: “ini berkasnya pak. langsung aja ke walikota”
Saya: “makasih pak. ini saya ke walikota jakpus kan?” (memastikan, bukan ke walikota jaktim, asal ktp istri)
BHM: “iya bener”
Saya: “nanti saya kesana ke bagian apa pak?”
BHM: “ke gedung blok B, lantai 1?
Saya: “ke loket atau gimana? atau saya harus bertemu siapa pak?”
BHM: “pokoknya ke situ deh” (bicara, tapi matanya tidak ke arah saya)
Saya: “oke deh pak. makasih”

Sebenernya saya tahu kemana harus pergi. Karena sebelumnya saya sudah mencari informasi di internet. Tetapi sengaja saya tanyakan, dengan harapan saya mendapatkan informasi yang jelas dari pihak Kelurahan. Bisa dibayangkan, jika orang yang tidak tahu sama sekali, maka akan kebingungan nantinya di gedung Walikota.
Selanjutnya, meluncurlah saya ke kantor Walikota Jakarta Pusat dengan membawa berkas-berkas termasuk surat pengantar yang sudah diberikan oleh kelurahan. Tujuan saya adalah loket pelayanan kependudukan dan pencatatan sipil.
Walaupun tahu tempatnya, bukan berarti mudah untuk mencari loket tersebut. Saya harus beberapa kali menanyakan lokasinya kepada petugas keamanan di setiap pintu masuk. Dari jawaban terakhir yang saya terima adalah saya harus ke loket 4 di gedung blok B lantai 1, dekat Bank DKI.

Loket 4 di gedung blok B lantai 1 kantor Walikota Jakarta Pusat

Loket tersebut ada di pojokan sebelah kanan. Hanya ada 2 orang yang sedang berurusan. Tidak berapa lama, saya mendapat giliran. Serahkan berkas, tidak sampai 5 menit berkas saya dikembalikan dengan surat tambahan dari kantor Walikota beserta tanda pembayaran retribusi keterlambatan pendaftaran/pencatatan/pelaporan kependudukan dan catatan sipil WNI. Petugas tersebut meminta uang sebesar Rp. 10.000 kepada saya, sesuai dengan yang di tanda pembayaran restribusi itu. Selesai. Prosesnya cepat, tidak berbelit-belit.

Tanda Pembayaran Retribusi Keterlambatan Pendaftaran/Pencatatan/Pelaporan Kependudukan Dan Catatan Sipil WNI

Saya pun kembali ke kelurahan. Waktu menunjukkan pukul 12 kurang 10 menit. Bapak Haji Mulyandi sudah bersiap-siap untuk istirahat makan siang. Berkas saya berikan kepada beliau. Setelah diperiksa, istri saya disuruh datang sekitar pukul 2 siang untuk langsung foto.
Sekalian saya tanya untuk proses pembuatan Kartu Keluarga (KK). Setelah dijelaskan berkas yang dibutukan untuk pembuatan KK tersebut, saya tanyakan berapa biaya resminya. Dengan sedikit lemah, beliau bilang sebesar Rp. 3.000.
Dalam hati saya tertawa melihat raut muka beliau ketika menjawab hal tersebut. Saya pun langsung meninggalkannya dan pulang. Semoga saja nanti tidak ada pungutan yang dikenakan untuk pembuatan KTP. Karena pada dasarnya, pembuatan KTP adalah gratis. Saya akan update lagi nanti setelah semuanya selesai.

 

 

Firefox 4 Launch Party Jakarta


Kericuhan Pembelian Tiket Final AFF 2010, Versi Petugas Keamanan

Kericuhan perihal pembelian tiket final AFF 2010 yang akan berlangsung hari Rabu, 29 Desember 2010 nanti, terjadi karena beberapa hal. Yang akan saya bahas adalah dari sisi petugas keamanan (Polisi dan petugas keamanan swasta).

DSC_5054

Pada saat kejadian itu, siang hari di Minggu 26 Desember 2010, pintu dan loket di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) berhasil dijebol para pengantri tiket. Sebagian dari mereka bahkan sudah antri sejak malam sebelumnya. Kurang tidur, lelah, lapar, haus, kepanasan, kehujanan serta diperlakukan tidak baik oleh pihak panitia seolah menjadi pelengkap penderita.

Disela-sela kejadian, saya sempat berbincang-bincang dengan beberapa aparat keamanan dari kepolisian dan satgas pengamanan tiket dari pihak swasta yang berbaju safari. Inti dari obrolan-obrolan tersebut adalah:

Mau ‘Ngelatih’ Senam

Lagi kepikiran soal obrolan singkat dengan kawan saya yang tinggal dekat rumah, Helmi. Obrolan ini berlangsung beberapa tahun yang lalu ketika berjumpa dia di suatu pagi.

Saya (N): “Mi, mau kemane lo pagi-pagi?”

Helmi (H): “Oh, biasa nih ip. Mau ngelatih senam”

N: “Hah? Dari kapan lo jadi pelatih senam? Gile aje, gak sangka gue. Ngelatih senam dimane, Mi?”

H: *Sambil tertawa* “Itu di puteran depan RS Pelni..”

N: *Sempat bingung beberapa saat* “Oooooh, hahahaahaha. Bisa aje lo”

Rupanya yang dimaksud adalah menjadi pak ogah di putaran jalan. Ada-ada saja. Kami pun tertawa singkat, dan dia melanjutkan perjalanannya menuju tempat “latihan senam”.

Menerapkan Sistem Quota, Layanan Internet Smart Telecom Tidak Lagi Hebat

Smart Hebat, Hemat.

Itulah moto dari salah satu produk PT. Sinarmas Telecom, Smart Telecom (atau bisa disingkat, Smart). Yang merupakan operator CDMA di Indonesia yang cukup terkenal karena memberikan akses internet cepat dan murah serta tidak ada batasan, alias unlimited. Awalnya, tidak ada batasan pada penggunaan merupakan salah satu fitur primadona, tentunya disamping tarif murah dan kecepatan yang ditawarkan pada koneksi EVDO Rev-A milik Smart.

Ronny Pasla Kecewa, Nurdin Halid Siapa Yang Tahu

Skor akhir Indonesia vs Uruguay

Semalam saya menyaksikan pertandingan persahabatan sepakbola antara Indonesia vs Uruguay di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Kekalahan sepertinya sudah seperti prediksi banyak orang. Namun, semangat dan mentalitas bertanding dari para pemain Indonesia yang sedikit mendapat sorotan. Seharusnya mereka menunjukkan semangat juang yang tinggi walaupun tahu melawan tim besar semifinalis piala dunia 2010 tidaklah mudah untuk meraih kemenangan.

Selesai pertandingan, ketika saya menuju pintu keluar, tidak sengaja bertemu dengan Ronny Pasla (kiper tim nasional Indonesia era tahun 1960-an dan 1970-an) yang sedang berjalan berlawanan arah dengan saya. Awalnya beliau mengira saya ini dari kalangan pers,

“Adik ini orang pers yah?”, beliau berujar.

Pikir saya, pasti karena beliau melihat kamera SLR yang saya bawa, jadi beliau kira saya ini orang pers.

Saya bilang, “Bukan om, saya hanya penonton biasa kok. Emang kenapa om?”.

Beliau melanjutkan, “Saya mau berbicara kepada pers mengenai kekecewaan saya melihat pertandingan tadi. Setidaknya ada 5 kali tackle yang dilakukan oleh pemain-pemain Uruguay, tetapi tidak ada hal yang sama oleh pemain kita. Mereka bermain tidak semangat. Kami dulu mengalahkan Uruguay 2-1 dengan semangat dan perjuangan. Hal itu tidak ada pada pertandingan tadi”.

Saya hanya mengamini saja perkataan beliau. Karena memang benar, para pemain Indonesia jauh sekali dari semangat juang tinggi yang seharusnya mereka tunjukkan di depan puluhan ribu orang yang datang di Stadion Gelora Bung Karno, termasuk para petinggi negeri ini yang menyaksikan langsung. Belum lagi jutaan pasang mata yang menyaksikan via siaran langsung televisi di seluruh Indonesia.

Sempat terbesit pula di dalam pikiran saya bahwa para pemain ini didalam otaknya hanya berpikir (setidaknya 30 menit terakhir dari pertandingan), “Saya akan bertukar kaos dengan pemain A atau B dari tim Uruguay”. Tetapi itu hanyalah pikiran jelek saya saja, semoga saya salah.

Nurdin Halid

Entah apa yang ada dipikiran Nurdin Halid saat itu

Selanjutnya, karena saya duduk tidak terlalu jauh dari bangku-bangku kehormatan tempat para orang penting menyaksikan pertandingan ini, saya beberapa kali menujukan mata ke arah Nurdin Halid untuk melihat seperti apa reaksi dia dengan kekalahan ini dan apa yang dipikirkan ketika sebagian besar penonton di Stadion menyanyikan dan meneriakkan “Nurdin turun ..Nurdin turun”. Setidaknya, setiap Indonesia kemasukkan gol dari Uruguay, teriakan-teriakan tersebut membahana di Stadion.

Ada satu kejadian yang cukup menarik saya saksikan. Yaitu ketika nyanyian “Buat apa NURDIN! .. buat apa NURDIN! .. Nurdin itu tak ada gunanya. Buat apa NURDI! .. buat apa NURDIN .. Nurdin itu tak ada gunanya” dinyanyikan dengan nada lagu Sayonara, bagaimana geram dan kesalnya (pengamatan saya) Nurdin Halid sambil melihat ke arah sumber nyanyain tersebut di sebelah selatan stadion. Dimana ada sekelompok kecil di tribun paling atas dengan kompaknya menyanyikan lagu sindiran tersebut. Terlihat Nurdin Halid tidak bisa berkonsentrasi lagi menyaksikan pertandingan yang sudah mendekati akhir.

Saya tidak tahu apa yang ada dibenaknya, mungkin kesal dan marah bercampur aduk berkecamuk dialam pikirannya. Bagaimana tidak, yang duduk di sebelah kirinya adalah Menteri Pemuda dan Olah Raga, Andi Mallarangeng. Dan di sebelah kirinya lagi ada Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono beserta istri.

Para pejabat negara itu tentunya mendengar juga bagaimana penolakan dan reaksi penonton, setidaknya bisa dikatakan mewakili hampir seluruh pendukung sepakbola Indonesia di seluruh Indonesia.

Tinggal bagaimana para pejabat tersebut menyikapi dan mendengarkan suara hati dari kita semua. Dan yang terpenting lagi, bagaimana sikap dari Nurdin Halid dan pengurus PSSI semua. Apakah mereka akan tetap buta dan tuli dengan keadaan sekarang. Apakah mereka juga akan tetap memaksakan kehendak untuk tetap memimpin lembaga tertinggi sepakbola Indonesia dengan grafik penilaian yang terus menurun.

Alangkah baiknya Nurdin Halid dan para pengurus PSSI mengundurkan diri secara terhormat dan menyerahkan tugas kepada darah-darah baru yang mungkin akan membawa penyegaran di PSSI dan semoga saja bisa membuat sepakbola Indonesia menjadi lebih maju.


Suporter Sepakbola dan Nasionalisme

Penonton di Stadion GBK

Suporter adalah orang yang mendukung sesuatu. Dalam hal sepakbola, suporter biasanya terkait dengan dukungan terhadap sebuah tim, bisa berupa klub maupun tim nasional suatu negara.

Dukungan bisa timbul biasanya berhubungan dengan beberapa faktor. Misalnya, faktor nasionalisme, asal daerah, pengaruh suatu kejadian, tayangan sepakbola di televisi, media (online maupun cetak), dan sebagainya. Saya akan coba uraikan masing-masing faktor tersebut.

Dear Mr. Hicks, Sebuah Video Protes

Sebuah video yang menggambarkan protes atas kondisi buruk yang dialami Liverpool FC saat ini. Disutradarai oleh Mike Jefferies, seorang sutradara asal Hollywood dan juga fans dari Liverpool FC, yang peduli dan prihatin atas kondisi buruk yang terjadi di dalam tubuh Liverpool FC.

Video ini juga dibintangi oleh banyak artis (pendukung Liverpool FC), para fans, dan legenda-legenda Liverpool, yang tentunya peduli terhadap kelangsungan Liverpool FC.

Silahkan diteruskan ke kawan-kawan anda yang peduli akan Liverpool FC. Tujuan pertama, mendapat 1 juta view di youtube.

Andi Bachtiar Yusuf itu Pendukung Rasisme?

Seorang sutradara film di Indonesia yang (ngakunya sih) nasionalis,  ternyata seorang yang juga rasis. Dalam hal ini rasis terhadap orang keturunan arab, didalam penggunaan bahasa. Figur publik (kata orang, tetapi tidak ada artikel mengenai dirinya di Wikipedia Bahasa Indonesia) ini, pada akun twitter-nya mengganti awalan kata yang seharusnya menggunakan huruf “P” dengan huruf “F”, yang mana sudah menjadi rahasia umum di Indonesia bahwa itu untuk menunjukkan pelecehan terhadap orang keturunan arab di Indonesia. Hal itu dikarenakan tidak ada penggunaan huruf P dalam bahasa arab.

Ya, saya Warga Negara Indonesia yang kebetulan keturunan dari ras Arab. Tetapi, apakah pantas pelecehan tersebut keluar dari seorang (yang katanya) figur publik di Indonesia? Saya tidak tersinggung atas pelecehan itu, saya sudah anggap biasa. Tetapi ketika seorang (yang katanya) figur publik melontarkannya di ranah publik juga, rasanya anda sekalian bisa nilai sendiri bagaimana orang yang seperti ini.

Dan juga, sebagai orang yang juga suka dengan sepakbola. Banyak tulisan-tulisan dia soal sepakbola di-blog-nya. Tetapi, masa sih dia tidak tahu ada istilah “Let’s Kick Racism Out of Football” yang digembar-gemborkan dalam sepakbola.

Oh ya, dari sepakbola inilah “hubungan mesra” kami ini bermula, jadi tidak ada salahnya saya mencantumkan soal rasisme di dalam sepakbola di atas.

Update: Rupanya rekam jejak Andi Bachtiar Yusuf dalam hal rasisme ini sudah ada yang cukup terkenal. Salah satunya berhubungan dengan film yang dibuatnya, Romeo & Juliet. Yang menjadi kontroversi di Bandung, selain karena perseteruan antara Viking (pendukung klub sepakbola Persib Bandung) dan The Jak (pendukung klub sepakbola Persija Jakarta), karena menyudutkan salah satu suku bangsa di Indonesia. Dalam hal ini suku Sunda.

Teloris

Teloris

n orang yang menjual telur alias tukang telur.

Gambar dari sini

Hello world! Migrasi (lagi!)

Setelah sekian lama berhenti menulis, sekarang coba pindah ke rumah baru. Siapa tahu, hasrat untuk menulis, kembali lagi. Sebenarnya domain ini sudah lama ada, tapi hanya dipergunakan untuk keperluan surat elektronik saja. Sekarang mencoba untuk memanfaatkan domain ini sebagai “rumah baru” blog saya.

Sedangkan “rumah lama” tidak akan saya tutup. Walaupun kemungkinan besar tidak akan saya update lagi. Jadi, kalaupun ada update tulisan, akan terjadi di alamat yang sekarang ini.

Selanjutnya, masih akan mencara theme yang pas untuk blog ini.

Problem Internet Indosat Starone

Internet via Indosat Starone sudah saya pakai sejak pertengahan 2005. Dari masa unlimited sampai dengan pembatasan pemakaian sebesar 1 GB perbulan. Saya tetap memakainya, karena pada awalnya koneksi internet Starone ini bagus sekali kualitasnya. Sehingga saya pun sampai merekomendasikan kepada keluarga dan kawan-kawan saya.

Masalah muncul dalam 1,5 tahun belakangan, ketika Starone yang biasa saya pakai di rumah mulai bermasalah dipenerimaan sinyal. Saya sudah coba komplain ke pihak Indosat (Starone), dan seperti biasa saya pun mendapat jawaban standar “akan diteruskan ke bagian terkait”.

Sampai suatu saat, akhirnya mereka pun mengakui memang Starone di daerah tempat tinggal saya bermasalah (Petamburan, Jakarta Pusat) dengan sinyal. Lalu mereka juga menjelaskan, bahwa BTS yang bersangkutan  tanggung untuk diperbaiki karena ketika itu, dalam waktu yang tidak lama lagi, Starone akan pindah frekuensi.

Sementara di Kantor saya (Slipi, Jakarta Barat) tidak ada masalah . Walaupun kualitas internetnya sudah tidak seperti awal saya pasang (berkurang sekitar 50%). Saya pun mencoba bersabar sambil berharap bahwa nanti ketika sudah rampung perpindahan frekuensi, akan ada perubahan signifikan dari kualitas internet tersebut.

Kini, ketika Starone sudah berpindah frekuensi (dari 1900 Mhz) ke 800 Mhz, dan saya juga sudah mengganti perangkat saya seperti yang disarankan oleh pihak Indosat. Namun yang saya dapat malah koneksi internet yang lebih parah. Padahal sinyal yang ada sudah bagus, tapi internetnya bermasalah. Contohnya, untuk membuka www.gmail.com pun saya merasa kesulitan. Harus diulang berkali-kali. Hitungan pemakaian adata terus berjalan, tetapi hasil yang saya dapat tidak ada. Ini merupakan kerugian  untuk saya, secara finansial, waktu, dan tenaga. Dan bukan tidak mungkin, ada banyak pelanggan Starone yang menggunakan fasilitas internet ini bernasib sama.

Sekarang ketika pihak Indosat Starone sedang gembar-gembor promosi (bahkan menurunkan tarif internet bulanannya), tetapi infrastrukturnya tidak dipersiapkan dengan baik. Hal ini tentunya pasti menjadi preseden buruk bagi pihak Indosat Starone.

404 Not Found

Not Found

The requested URL /wp_links/wp_links.php was not found on this server.

Additionally, a 404 Not Found error was encountered while trying to use an ErrorDocument to handle the request.

Powered by WordPress | iCellPhoneDeals.com Offers Free Wireless Deals. | Thanks to Bestincellphones.com Verizon Cell Phones, Best CD Rates Online and Fat Burning Furnace Review