Semalam saya menyaksikan pertandingan persahabatan sepakbola antara Indonesia vs Uruguay di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Kekalahan sepertinya sudah seperti prediksi banyak orang. Namun, semangat dan mentalitas bertanding dari para pemain Indonesia yang sedikit mendapat sorotan. Seharusnya mereka menunjukkan semangat juang yang tinggi walaupun tahu melawan tim besar semifinalis piala dunia 2010 tidaklah mudah untuk meraih kemenangan.
Selesai pertandingan, ketika saya menuju pintu keluar, tidak sengaja bertemu dengan Ronny Pasla (kiper tim nasional Indonesia era tahun 1960-an dan 1970-an) yang sedang berjalan berlawanan arah dengan saya. Awalnya beliau mengira saya ini dari kalangan pers,
“Adik ini orang pers yah?”, beliau berujar.
Pikir saya, pasti karena beliau melihat kamera SLR yang saya bawa, jadi beliau kira saya ini orang pers.
Saya bilang, “Bukan om, saya hanya penonton biasa kok. Emang kenapa om?”.
Beliau melanjutkan, “Saya mau berbicara kepada pers mengenai kekecewaan saya melihat pertandingan tadi. Setidaknya ada 5 kali tackle yang dilakukan oleh pemain-pemain Uruguay, tetapi tidak ada hal yang sama oleh pemain kita. Mereka bermain tidak semangat. Kami dulu mengalahkan Uruguay 2-1 dengan semangat dan perjuangan. Hal itu tidak ada pada pertandingan tadi”.
Saya hanya mengamini saja perkataan beliau. Karena memang benar, para pemain Indonesia jauh sekali dari semangat juang tinggi yang seharusnya mereka tunjukkan di depan puluhan ribu orang yang datang di Stadion Gelora Bung Karno, termasuk para petinggi negeri ini yang menyaksikan langsung. Belum lagi jutaan pasang mata yang menyaksikan via siaran langsung televisi di seluruh Indonesia.
Sempat terbesit pula di dalam pikiran saya bahwa para pemain ini didalam otaknya hanya berpikir (setidaknya 30 menit terakhir dari pertandingan), “Saya akan bertukar kaos dengan pemain A atau B dari tim Uruguay”. Tetapi itu hanyalah pikiran jelek saya saja, semoga saya salah.
Selanjutnya, karena saya duduk tidak terlalu jauh dari bangku-bangku kehormatan tempat para orang penting menyaksikan pertandingan ini, saya beberapa kali menujukan mata ke arah Nurdin Halid untuk melihat seperti apa reaksi dia dengan kekalahan ini dan apa yang dipikirkan ketika sebagian besar penonton di Stadion menyanyikan dan meneriakkan “Nurdin turun ..Nurdin turun”. Setidaknya, setiap Indonesia kemasukkan gol dari Uruguay, teriakan-teriakan tersebut membahana di Stadion.
Ada satu kejadian yang cukup menarik saya saksikan. Yaitu ketika nyanyian “Buat apa NURDIN! .. buat apa NURDIN! .. Nurdin itu tak ada gunanya. Buat apa NURDI! .. buat apa NURDIN .. Nurdin itu tak ada gunanya” dinyanyikan dengan nada lagu Sayonara, bagaimana geram dan kesalnya (pengamatan saya) Nurdin Halid sambil melihat ke arah sumber nyanyain tersebut di sebelah selatan stadion. Dimana ada sekelompok kecil di tribun paling atas dengan kompaknya menyanyikan lagu sindiran tersebut. Terlihat Nurdin Halid tidak bisa berkonsentrasi lagi menyaksikan pertandingan yang sudah mendekati akhir.
Saya tidak tahu apa yang ada dibenaknya, mungkin kesal dan marah bercampur aduk berkecamuk dialam pikirannya. Bagaimana tidak, yang duduk di sebelah kirinya adalah Menteri Pemuda dan Olah Raga, Andi Mallarangeng. Dan di sebelah kirinya lagi ada Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono beserta istri.
Para pejabat negara itu tentunya mendengar juga bagaimana penolakan dan reaksi penonton, setidaknya bisa dikatakan mewakili hampir seluruh pendukung sepakbola Indonesia di seluruh Indonesia.
Tinggal bagaimana para pejabat tersebut menyikapi dan mendengarkan suara hati dari kita semua. Dan yang terpenting lagi, bagaimana sikap dari Nurdin Halid dan pengurus PSSI semua. Apakah mereka akan tetap buta dan tuli dengan keadaan sekarang. Apakah mereka juga akan tetap memaksakan kehendak untuk tetap memimpin lembaga tertinggi sepakbola Indonesia dengan grafik penilaian yang terus menurun.
Alangkah baiknya Nurdin Halid dan para pengurus PSSI mengundurkan diri secara terhormat dan menyerahkan tugas kepada darah-darah baru yang mungkin akan membawa penyegaran di PSSI dan semoga saja bisa membuat sepakbola Indonesia menjadi lebih maju.