Archive for the ‘Opini’ Category

Menerapkan Sistem Quota, Layanan Internet Smart Telecom Tidak Lagi Hebat

Smart Hebat, Hemat.

Itulah moto dari salah satu produk PT. Sinarmas Telecom, Smart Telecom (atau bisa disingkat, Smart). Yang merupakan operator CDMA di Indonesia yang cukup terkenal karena memberikan akses internet cepat dan murah serta tidak ada batasan, alias unlimited. Awalnya, tidak ada batasan pada penggunaan merupakan salah satu fitur primadona, tentunya disamping tarif murah dan kecepatan yang ditawarkan pada koneksi EVDO Rev-A milik Smart.

Suporter Sepakbola dan Nasionalisme

Suporter adalah orang yang mendukung sesuatu. Dalam hal sepakbola, suporter biasanya terkait dengan dukungan terhadap sebuah tim, bisa berupa klub maupun tim nasional suatu negara.

Dukungan bisa timbul biasanya berhubungan dengan beberapa faktor. Misalnya, faktor nasionalisme, asal daerah, pengaruh suatu kejadian, tayangan sepakbola di televisi, media (online maupun cetak), dan sebagainya. Saya akan coba uraikan masing-masing faktor tersebut.

Cerita Dari Pesta Blogger 2007 & Kopdar Kampung Gajah

Tulisan ini memang sudah terlambat. Seharusnya saya sudah menulis ini sejak 1 minggu yang lalu. Namun karena bermasalah dengan koneksi ke WordPress, maka tulisan ini baru hari ini saya buat.

Rupanya Pesta Blogger 2007 ini cukup berkesan untuk saya. Karena selain turut serta dalam acara yang besar untuk blogger Indonesia ini, saya juga bertemu muka dengan sebagian anggota dari Kampung Gajah, yaitu semua milis yang bernama Id-Gmail. Selama ini saya hanya tahu mereka melalui milis tersebut.

Alhasil, Pesta Blogger 2007 itu sendiri menjadi tambah heboh dengan kehadiran komunitas ini. Jumlah yang cukup banyak dibanding dengan komunitas lain yang datang, dan tentunya keceriaan yang sangat positif yang ditunjukkan oleh anggota dari Kampung Gajah ini.

Pesta Blogger 2007 dihadiri tidak kurang dari 470 orang, dari seluruh Indonesia, bahkan ada yang datang dari negara tetangga. Diawali dengan pembukaan oleh ketua panitia PB 2007, Enda Nasution. Lalu dilanjutkan dengan sambutan dari Menteri Kominfo, M. Nuh. Setelah itu, berbagai macam session dilakukan, dari obrolan tentang iklim blog di Indonesia sampai dengan pemilihan blog-blog favorit.

Sore harinya, saya ikut berkopdar halal bi halal dengan Kampung Gajah ke rumah Heri di bilangan Tanah Abang. Jarak yang tidak begitu jauh di tempuh hanya dengan berjalan kaki oleh sebagian dari kami. Namun ada juga yang sial, karena harus tersasar ke tempat lain yang sebenarnya tidak terlalu jauh dengan tempat tinggal Heri. Mungkin juga disebabkan oleh mis-komunikasi. Tapi sudahlah, saya tidak akan menyebut nama-nama mereka yang tersasar.
Di rumah tersebut dipenuhi oleh 30 orang Gajah-gajah (sebutan untuk anggota Kampung Gajah). Kami berkumpul sampai kira-kira pukul 19:00.

Setelah dari tempat Heri, kami (ada juga yang tidak) meluncur ke Apartement Semanggi di Slipi untuk makan. Saya yang kebetulan harus menghadiri resepsi teman pada pukul 20:00, harus berpisah setelah menunjukkan arah ke tempat tersebut kepada beberapa orang dalam 1 mobil. Setelah itu langsung pulang ke rumah, yang kebetulan tidak terlalu jauh.

Pulang kondangan, saya kembali ke tempat itu (Apt. Semanggi), tepatnya di kamar Pak Andika. Dan berkumpul kembali sampai tengah malam.

Terima kasih untuk panitia PB 2007 yang sudah bersusah payah untuk memfasilitasi acara ini. Serta terima kasih untuk Heri, Pak Andika dan seluruh anggota Kampung Gajah.

Sampai jumpa di Pesta Blogger berikutny (mudah-mudahan terselenggara kembali tahun depan).

Powered by ScribeFire.

Definisi Ngejunk

Ngejunk = Nge-sampah

Negara Tanpa Bendera

Pernahkah Anda mendengar istilah “Negara Tanpa Bendera” yang berkembang di masyarakat ? Istilah tersebut ada karena melihat kondisi suatu tempat/daerah yang hampir tidak pernah terjamah oleh hukum resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Maksudnya adalah, suatu tempat/daerah yang mana kejahatan atau kebebasan yang terjadi disana tidak pernah terlihat (pura-pura tidak lihat?) oleh penegak hukum .
Mungkin dibawah ini bisa saya tuliskan tempat-tempat yang menurut saya sebagai tempat Negara tanpa bendera.

1.   Jakarta Pusat,  sekitar pasar Tanah Abang

  • Banyak terjadi pungli (pungutan liar)
  • Tempat prostitusi (daerah Bongkaran)
  • Narkoba bebas beredar
  • Minuman keras bebas beredar seperti air mineral
  • dsb.

2.   Jakarta Barat, sekitar Kota

  • Prostitusi berkembang dengan marak
  • Perjudian yang “legal”
  • Salah satu pusat penjualan cd/vcd/dvd bajakan terbesar (Glodok & Mangga Dua)
  • Narkoba bebas beredar (yang terbanyak ada di diskotik)
  • dsb.

3.   Jakarta Timur, sekitar pasar / stasiun Jatinegara

  • Kendaraan umum ugal-ugalan
  • Kendaraan umum berhenti dan menunggu penumpang (ngetem) di sembarang tempat
  • Tempat prostitusi
  • Tempat Perjudian
  • dsb.

4.   Jakarta Utara, sekitar pelabuhan Tanjung Priok

  • Banyak pungutan liar
  • Salah satu gerbang masuknya barang-barang ilegal ke Jakarta
  • Berlakunya hukum rimba, siapa kuat dia menang
  • Tempat prostitusi
  • Tempat perjudian
  • Narkoba bebas beredar
  • dsb.

5.   Jakarta Selatan, sekitar Blok M

  • Narkoba bebas beredar
  • Tempat prostitusi
  • dsb.

Tempat-tempat di atas baru merupakan yang sepengetahuan saya saja, dan hanya di Jakarta saja. Bukan tidak mungkin daftar tersebut bertambah (Jakarta). Dan juga untuk di luar Jakarta, saya rasa banyak sekali tempat / daerah Negara tanpa bendera tersebut.

Kalau ada yang bisa menambahkan, nanti saya akan update tulisan ini.

Teman Yang Baik, Lebih Dari Segalanya

Setiap orang pasti mendambakan hidup yang tenang, tentram, sejahtera, dan sebagainya. Namun terkadang ada juga yang berdasarkan penilaian materi (uang, dan lain-lain). Sebenarnya, semua itu tidak cukup kalau kita hidup enak tapi dalam kesendirian. Yang kita butuhkan sebagai hal yang utama adalah memiliki teman yang baik untuk kita.

Teman yang baik akan memenuhi semua hal yang kita harapkan. Segala faktor yang berhubungan dengan hidup yang enak akan juga terpenuhi, karena dengan teman baik kita akan saling memenuhi. Teman baik itu bukan hanya sebagai teman saja, bisa juga suami atau istri kita. Bisa juga kalau kita sudah memiliki anak yang berusia dewasa, anak itu sebagai teman kita.

Semua hal yang dibutuhkan untuk menjadi teman baik itu, utamanya adalah komunikasi. Dengan komunikasi itu kita bisa berinteraksi secara baik dengan orang yang menjadi teman baik kita. Dengan demikian, terciptalah kondisi seperti yang kita harapkan itu.

Namun jangan sampai salah memilih teman (terutama teman hidup). Salah-salah malah akan menjerumuskan kita kedalam lubang yang didalamnya kita terperangkap. Ketika kita sudah menyadari, bisa jadi hal itu sudah terlambat.

Apakah saya sudah menjadi teman baik untuk Anda?

Membudayakan Sifat Malu

Malu. Itu adalah salah satu sifat dalam diri manusia. Setiap manusia yang ada di dunia ini pasti memiliki sifat ini. Sifat malu ini selalu identik dengan sikap positif yang ditunjukkan manusia. Dengan adanya sifat malu ini maka manusia seperti mendapat penyaring filter dalam melakukan sesuatu bertindak. Sayangnya untuk para pejabat yang berkuasa di negeri ini, sifat malu ini belum menjadi suatu hal yang biasa. Bahkan cenderung kearah, istilah yang ada pada masyarakat, ‘sudah putusnya urat malu’.

Namun apapun, terkadang sifat malu ini juga bisa berdampak negatif. Seperti yang ditunjukkan oleh masyarakat Jepang. Orang Jepang sangat menjunjung tinggi sifat malu ini. Bahkan berita yang terakhir, Menteri Pertanian Jepang gantung diri satu jam menjelang pemberian keterangan mengenai skandal politik yang melibatkan menteri tersebut. Andai saja para pejabat di Indonesia bisa meniru ‘sikap’ ini (dalam hal yang lebih positif), alangkah indahnya iklam politik Indonesia.

Wanita Dan Pakaian Ketat

Maksud dari tulisan ini bukanlah untuk mendiskriminasikan seorang wanita, tapi bagaimana kita mencari jalan keluar dari permasalahan yang ditimbulkan apabila seorang wanita menggunakan pakaian ketat. Saya telah mengamati hal ini dari berbagai sudut ( termasuk dari sisi keluarga saya sendiri ).



Pada dasarnya wanita ingin dianggap lebih oleh lawan jenisnya. Mereka merasa akan lebih yakin jika lawan jenisnya memperhatikan mereka apabila mereka sedang berjalan. Namun disadari atau tidak cara berpakaian mereka yang ketat dapat menimbulkan masalah.



Masalah-masalah yang dapat ditimbulkan dari hal itu adalah salah satunya timbulnya niat jahat dari orang lain. Dengan berpakain ketat, berarti secara langsung atau tidak langsung berarti mengundang kejahatan ke dalam diri mereka. Mungkin kita sering baca di koran-koran atau melihat di televisi tentang banyaknya kasus pelecehan atau pemerkosaan terhadap wanita. Di salah satu acara di televisi, ada kata-kata penting yang sering diucapkan, yaitu, “Kejahatan terjadi bukan karena hanya niat dari pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan”.

Dari kata-kata itu harusnya para wanita juga memperhatikan hal tersebut, bukannya justru mengundang kejahatan datang, salah satunya dengan menggunakan pakaian ketat.



Adapun hal lainnya adalah perasaan risih dari wanita tersebut, disadari atau tidak, terkadang juga suka timbul. Mengapa perasaan itu timbul ?, yang harus di perhatikan adalah KARENA PARA WANITA MEMAKSAKAN DIRI UNTUK MEMAKAI PAKAIAN KETAT. Karena untuk mengikuti tren mode yang ada. Memang sih. tidak ada salahnya apabila wanita mnegikuti tren mode, tetapi jika hal itu merupakan suatu keterpaksaan (tidak disadari)maka itu adalah suatu kerugian.



Dari segi psikologi, para wanita juga bersifat setengah-setengah, maksudnya adalah mereka itu mau berpakain ketat, tetapi tidak mau orang lain (lawan jenis) untuk melihat bagian tubuhnya jikalau pakaian mereka sedikit terangkat dibagian belakang, maka secara tidak sengaja orang yang duduk dibelakang mereka akan melihat, tetapi mereka buru-buru menutupinya ( walaupun hanya sebentar, karena akan terangkat lagi ). Itu artinya mereka masih setengah-setengah ( mau pakai pakaian ketat tetapi tidak mau menerima resiko apabila terangkat ). Kalau begitu mendingan sekalian saja mereka tidak memakai pakaian ketat, maka dengan itu mereka juga akan terbebas dari perasaan-perasaan was-was tadi.



Pesan dari saya, janganlah terlalu mengikuti mode (mode orang barat) jika kita masih ada perasaan risih ( setengah-setengah ). Karena mereka (orang barat) memang terbiasa hidup bebas, sehingga pakaian ketat tidak membuat risih mereka dan mereka bersikap cuek-cuek saja.



Demikianlah tulisan ini saya buat, maksud dari tulisan ini adalah menjadi sarana untuk intropeksi dan sekaligus KRITIK. Marilah kita membangun diri kita menjadi lebih baik lagi.

Terima kasih atas perhatiannya.



Tulisan ini adalah tulisan lama saya (sekitar tahun 2004, persisnya saya lupa). Tulisan ini juga pernah saya masukkan ke beberapa forum, baru teringat kemarin untuk memasukannya ke blog ini. Kalo ada saran dan kritik atas tulisan ini, sampaikan langsung melalui blog ini juga. Saya sangat mengharapkan saran dan kritik dari kawan-kawan dan para pembaca. Terima kasih.

Hari Kejepit Nasional

Dilema hari kejepit nasional (harpitnas) kembali terjadi pada bulan ini. Pemerintah sudah menetapkan bahwa tanggal 18 Mei 2007 sebagai hari cuti bersama (terutama untuk pegawai pemerintah). Diluar pegawai pemerintah, yaitu pihak swasta, tidak semua perusahaan menetapkan hari ini sebagai hari libur. Jadi aktivitas tetap ada, walaupun tidak semua perusahaan. Efek dari hal ini dengan jelas bisa dilihat dari segi berkurangnya kemacetan Jakarta pada hari ini. Lebih jauh lagi, efek yang ditimbulkan adalah berkurangnya produktivitas kerja dan jalannya roda bisnis pada hari ini (dan harpitnas-harpitnas yang lain).

Banyak orang yang senang dengan kondisi seperti ini, karena libur jadi lebih panjang (kamis – minggu). Tapi tidak semuanya senang, pastilah ada pihak-pihak yang dirugikan dengan kondisi ini. Seperti tulisan Paman Tyo , beliau bilang harpitnas ini sebagai hari ‘pemaksaan’ cuti nasional dari Pemerintah. Dengan adanya ‘pemaksaan’ ini, otomatis jatah cuti tahunan akan berkurang.

Namun apapun yang terjadi, roda bisnis tetap harus jalan, terlepas dari kontroversi cuti bersama yang ditetapkan oleh Pemerintah. Untuk penulis sendiri, hari ini justru hari yang penulis harapkan untuk tidak libur. Karena ada beberapa urusan penting yang harus diselesaikan hari ini.

Bagaimana menurut Anda?

Tamasya Banjir Jakarta, Antara Tanah Abang – Kota

Sampai hari ini, banjir masih terus berlangsung di ibukota negara Indonesia, Jakarta. Malah cenderung ada peningkatan jumlah tempat dan volume banjir. Sore tadi sekitar pukul 16:00 WIB saya berkeliling sekitar Tanah Abang – Kota. Akses yang biasanya saya tempuh lewat kawasan Jati Baru, Tanah Abang, kini sudah tertutup oleh banjir. Sangat riskan bila dilewati oleh sepeda motor kepunyaan saya. Putar arah untuk melewati jalan alternatif seperti Jl. Lontar pun tidak bisa, karena kawasan tersebut juga sudah digenangi air setinggi paha orang dewasa. Akhirnya mau tidak mau saya memutar lewat Slipi menuju arah Semanggi dan berbelok melewati jalan Sudirman. Dijalur lambat saya pun berjalan pelan sambil melihat-lihat situasi sekitar. Yang pertama saya jumpai adalah masih adanya banjir di kawasan Bendungan Hilir. Lalu saya terus jalan menuju arah Dukuh Atas. Sempat saya memperlambat laju sepeda motor saya kembali ketika melintas di atas jembatan Dukuh Atas. Di terowongan dibawahnya air sudah hampir menutupi lampu lalu lintas.
Ketika saya sampai di Jl. MH. Thamrin, tepatnya di depan kawasan Sarinah, rupanya disana pun terendam air, sehingga tidak memungkinkan untuk dilewati kendaraan.
Berlalu terus sepeda motor saya, ketika melewati Istana Negara, saya sempat melihat ada sebuah mobil pemadam kebakaran terparkir disana. Mungkin itu untuk persiapan penyedotan air jika akhirnya Istana Negara pun terendam oleh banjir.
Jalanan sangatlah kondusif karena tidak terlalu ramai kendaraan yang ada, sehingga tidak ada kemacetan. Banyak juga lampu-lampu lalu lintas yang tidak berfungsi.
Melintasi Jl. Gajah Mada, air dari Kali Krukut sudah hampir meluber ke jalan raya. Hanya tinggal sejengkal saja, jika Bogor tetap ‘berbaik hati’ mengirimkan ‘paket air’ nya lagi, saya rasa banjir di daerah Kota tinggal menunggu waktu saja. Begitupula keadaan diseberangnya, tepatnya di Jl. Hayam Wuruk, tidak jauh berbeda.
Perjalanan pulang, sengaja saya melintasi Jl. Musi untuk tembus ke daerah Petojo yang aman dari banjir, sebagai jalan pintas menuju daerah Roxy. Kira-kira 200 meter menjelang ITC Roxy Mas, jalan raya sudah terendam dengan air bah. Kembali saya pun memutar sepeda motor saya melawan arah lalu berbelok ke kanan melewati Jl. Biak yang sampai saat sore tadi masih aman dari terjangan banjir.
Dari atas jembatan Tomang saya mengamati bagaimana daerah tersebut terkubur dengan air disekelilingnya, bahkan setelah menuruni jembatan tersebut kita sudah dihadang oleh air bah. Kesempatan ini banyak digunakan oleh orang-orang sekitar untuk mengais rejeki dengan memanfaatkan ojek gerobak untuk mengangkut sepeda motor melewati banjir. Namun saya kurang tahu berapa pastinya biaya yang dibutuhkan untuk menggunakan jasa dari ojek gerobak tersebut.
Saya memutuskan untuk pulang melewati Cideng lalu naik ke atas flyover Jati Baru. Baru dengan agak jelas saya mengetahui seberapa parah banjir yang menerjang daerah tersebut.
Sebelum akhirnya saya sampai dengan selamat ke rumah, daerah Petamburan, Tanah Abang dengan melewati Jl. KH. Mas Mansyur, belok ke kanan menuju Slipi kembali, saya menyempatkan diri untuk melihat keadaan di pasar Tanah Abang. Rupanya banjir dikawasan tersebut dimulai dari tempat gedung bioskop lama sampai dengan jalanan depan stasiun kereta api Tanah Abang yang juga tembus ke jembatan Jati Baru.
Banjir kali ini benar-benar parah melebihi banjir yang terjadi pada 5 tahun sebelumnya, yakni tahun 2002. Namun yang mengherankan, kenapa kita mau menjadi seperti keledai yang jatuh ke dalam lubang yang sama lebih dari dua kali. Rupanya, kemegahan kota Jakarta hanyalah tipuan mata belaka karena di dalamnya ternyata sangat kropos. Perencanaan Tata Kota yang tidak baik (atau tidak berjalan semestinya?) menjadi salah satu pemeran penting dalam musibah banjir tahun 2007 ini di Jakarta. Perlunya kesadaran dari Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta dalam hal ini, serta juga peningkatan kesadaran masyarakat terhadap salah satu peran mereka juga (sampah?) dalam banjir ini.


Catatan: Sampai malam ini ketika tulisan ini dibuat, penulis hanyalah mengandalkan kekuatan
batere dari
komputer serta telepon starone untuk koneksi internet. Karena listrik dan telepon sudah memasuki hari ketiga tidak berfungsi.

Jakarta Banjir Lagi, Macet Dan Dapur Umum Hasilnya

Gambar 1 : Efek macet akibat banjir

Gambar 2: “Banjir” dapur umum disekitar lokasi banjir

Jakarta banjir lagi tahun ini, tidak ada penanganan banjir secara serius. Siapa yang mau disalahkan, rakyat atau pemerintah? Atau kedua-keduanya bersalah.
Tempat tinggal penulis tidaklah terkena banjir, namun terkena efek dari banjir tersebut yaitu listrik mati sejak sekitar pukul 1:30 dini hari tanggal 2 februari 2007.

Catatan
: Gambar diambil menggunakan kamera ponsel nokia 6275i. Lokasi disekitar tempat tinggal penulis. Di Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Pelajaran Yang Terus Berulang Dalam Kehidupan

Dalam dunia kehidupan ini sudah pasti setiap anak manusia (bahkan setiap makhluk) akan mengalami proses pembelajaran, entah itu berupa formal atau non formal. Ketika masih dalam rahim sang ibu, proses belajar pun juga terjadi. Bagaimana cara komunikasi dengan sang calon ibu, itu juga merupakan pembelajaran.
Lalu ketika lahir ke dunia ini, sang anak pun belajar untuk mencari penghidupan dengan cara bernafas dan melepaskan suara untuk yang pertama kali di dunia ini baginya. Lalu sang ibu mengajari nya bagaimana caranya makan serta minum, yang nanti akan menjadi naluri kuat dari sang anak ketika dia lapar atau haus maka dia akan menangis dan dapatlah dia pelajaran hidup yang kedua. Lalu, berikutnya bagaimana cara dia mengenali orang yang sering dilihatnya (Mostly, sang ibu), itu pelajaran ketiga. Kelanjutannya adalah bagaimana dia belajar menyebutkan nama yang diajarkan oleh ibunya, itulah pelajaran ke empat. Kemudian setelah kurang lebih satu tahun, dia akan belajar berjalan yang dimulai dari merangkak, inilah pelajaran yang kelima baginya ketika sang anak sudah dapat berdiri dan berjalan serta berlari. Dilanjutkan dengan pelajaran keenam, yaitu bagaimana sang anak belajar dalam pendidikan formal berupa sekolah tingkat dasar (TK dan SD), tingkat menengah (SMP dan SMU) serta tingkat tinggi (D1 sampai S3). Pada pelajaran ketujuh, bagaimana memasuki tahap pendewasaan diri. Kedelapan, proses komunikasi dengan lingkar luar yang sangat luas (bukan keluarga).
Kesembilan dan Kesepuluh adalah pelajaran untuk bertahan dalam kehidupan dengan bekerja dan membina keluarga untuk mengajari anak seperti mereka sebelumnya.
Dalam kehidupan ini proses-proses ini tidak pernah berhenti berulang, bahkan akan terus menerus berulang dan berulang (looping process). Makna dari ke 10 proses pembelajaran tersebut adalah :

  1. Pelajaran pertama, bagaimana cara menjalin hubungan dengan orang terdekat kita (keluarga) dengan baik
  2. Pelajaran kedua, bagaimana cara menjaga jalinan hubungan yang sudah kita bina dengan tidak mengacuhkan orang-orang terdekat kita tersebut.
  3. Pelajaran ketiga, bagaimana cara memperhatikan orang-orang disekitarnya tersebut (keluarga).
  4. Pelajaran keempat, bagaimana cara menjalin silaturahmi keluarga dengan cara sering komunikasi dengan mereka, semakin sering maka kita akan semakin dekat.
  5. Pelajaran kelima, bagaimana cara berjalan dengan keluarga dengan kondisi perlahan-lahan sehingga mereka akan sama-sama maju dan tidak ada yang tertinggal.
  6. Pelajaran keenam, bagaimana cara membudidayakan keluarga dengan ilmu, sehingga tidak ada yang tertinggal dalam perjalanan sehari-hari.
  7. Pelajaran ketujuh, bagaimana cara menyikapi masalah-masalah dalam kehidupan, baik yang menyangkut diri sendiri, keluarga atau pun pihak luar.
  8. Pelajaran kedelapan, bagaimana cara menjaga hubungan baik dengan orang diluar keluarga.
  9. Pelajaran kesembilan, bagaimana cara menyusun rencana untuk pembentukan generasi selanjutnya (regenerasi).
  10. Pelajaran kesepuluh, bagaimana cara mengajari generasi penerus kita dengan proses pelajaran pertama.

Itulah 10 looping process dalam kehidupan kita ini, hal ini sama juga dengan rantai makanan pada kehidupan binatang. Seandainya ada satu rantai yang kita potong, maka semakin lama akan semakin punah kehidupan binatang tersebut. Begitu pula dengan proses pembelajaran kehidupan itu, janganlah ada yang terlewatkan atau terputuskan karena akan menghancurkan generasi-generasi penerus kita. Bukankah kita ingin sesuatu yang lebih baik untuk masa depan daripada yang sudah ada saat ini.

404 Not Found

Not Found

The requested URL /wp_links/wp_links.php was not found on this server.

Additionally, a 404 Not Found error was encountered while trying to use an ErrorDocument to handle the request.

Powered by WordPress | iCellPhoneDeals.com Offers Free Wireless Deals. | Thanks to Bestincellphones.com Verizon Cell Phones, Best CD Rates Online and Fat Burning Furnace Review