Archive for the ‘Sehari-hari’ Category

Mengurus Sendiri KTP Pindahan Mengikuti Prosedur Resmi Harus Sabar Menghadapi Oknum Kelurahan dan Kecamatan

Karena satu dan lain hal, baru sekarang KTP istri pindah alamat saya (Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat). Surat-surat di tempat asal KTP istri udah diurusin. Cuma ada 2 problem (so far) yang timbul belakangan.
Hari ini saya ke kelurahan tempat tinggal saya bersama istri untuk mengurus pindahan KTP tersebut. Sampai disana ternyata dibilang surat pindahnya ada yangg kurang, yaitu tanda tangan dari kantor kecamatan asal KTP istri saya (Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur).
Padahal disurat itu tidak ada kolom “mengetahui” atau apapun untuk tanda tangan kecamatan. Tetapi karena dibilang itu wajib ditanda tangani dan merupakan masuk aturan resmi, baiklah saya akan urus ke kantor kecamatan tersebut.
Walaupun sebenernya bukan kesalahan kita, karena orang kelurahan asal KTP tidak memberi tahu apa-apa mengenai tanda tangan ini.
Karena sudah  mepet jam  makan siang, percuma juga saya pergi, karena tahu sendirilah bagaimana perilaku oknum-oknum aparat negara mengenai jam istirahat. Jam 13 kurang, saya berangkat ke kecamatan tersebut. Setelah bingung memutar sana-sini untuk mencarai dimana letaknya,  baru ketemu kantor kecamatannya. Ternyata lagi dibongkar habis. Kantornya pindah ke rumah tidak jauh dari situ.  Samapi disana, masih agak berantakan memang (bukan agak lagi sih). Tanya di depan sama orang yang lagi duduk-duduk, disuruh langsung ke dalam.
Nah, di dalam saya tanya lagi di mana bagian yang mengurusi tanda tangan itu. Suratnya diminta (saya bundel sekalian dengan persyaratan lainnya: fotokopi >> buku nikah, ktp muna, ktp gue). Disuruh nunggu. 15 menit nunggu, tidak ada perkembangan apa-apa.
Saya lalu tanya ke pegawai kecamatan (PK) tersebut,
Saya: “masih lama, pak?” ..
PK: “ini yang tanda tangan gak ada semua”.
Saya: “lah emang ada berapa orang?”
PK: “ada 4 orang, camat, wakil camat, sekretaris camat, (1 lagi gue lupa dia bilang apa gitu). lagi pada repot ngurusin urusan pindahan ini”
Saya: “lah kenapa gak diurusin sebelum pindah, jadi bisa langsung kerja lagi”
PK: “gak bisa pak..”
Saya tidak melanjutkan lagi, sudah terlanjur malas.
Tunggu punya tunggu, hampir 1 jam dari tibanya saya di tempat itu. Akhirnya surat itu ditanda tangani juga. Saya dipanggil buat ambil surat tersebut, sambil dia minta uang.
Saya: “duit apaan pak?”
PK: “ya biasalah… buat ini itu (sambil nunjukin kantor, mungkin maksudnya “renovasi”)
Saya: “ini gratis kan pak?”
PK: “iya”
Saya: “oke..terima kasih” (sambil saya ambil berkas tersebut dan gue jalan tanpa kasih muka lagi)
Sebenernya ingin saya panjangin persoalan yang dia minta uang, akan tetapi karena saya terburu-buru mau langsung ke kelurahan Petamburan, jadinya malas deh. Lama lagi nanti.
Problem pertama: tanda tangan kecamatan asal pindahan.

Sampai di rumah, langsung saya  bawa istri ke kelurahan. Dengan harapan bisa langsung diproses dan foto untuk KTP.
Ternyata saya salah. Muncul problem kedua. Setelah berkas istri diperiksa, ternyata KTP-nya sudah habis masa berlakunya dari tahun 2010.
Orang kelurahan (OK) tersebut bertanya.
OK: “ktp nya mati nih. mesti bayar denda”
Saya: “oh kena denda ya? berapa pak denda resminya?”
OK: “10rb. tapi itu bapak urus sendiri ke walikota. kalo mau dibantuin, 30rb.”
Saya: “mahal bener. saya urus sendiri aja pak. apa yg saya butuhin buat ngurus?”
OK: “surat pengantar RT dan RW, trus bawa kemari minta pengantar (kalo gak salah) untuk PM1. bawa ke walikota”
Saya: “itu surat yg dari kelurahan, bayar gak pak? berapa? resmi apa kagak”
OK: (sempet diem beberapa saat) “wah saya gak tau. tanya aja sendiri ke dalam”
Saya: “lho gimana pak, bapak kan orang kelurahan. masa gak tau. bapak harusnya tau info gitu. jadi, bayar apa nggak nih pak? berapa kalo bayar resmi?”
OK: “saya gak tau, tanya sendiri deh. beda bagian soalnya.”
Saya: “baiklah pak, saya ini mo urus semuanya secara resmi menurut aturan pemerintah. termasuk biayanya (disini gue tekankan kalimatnya). skarang saya ke rt-rw”
Pergilah saya bersama istri ke rumah Bapak RT untuk minta dibuatkan surat pengantar (ke RT dulu, baru ke RW). Ternyata suratnya sedang kosong/habis (entah benar apa tidak). Saya disuruh kembali lagi  jam 5 sore. Dalam hati, “Ah kampret!, gue buru2 biar bisa kekejar semua hari ini, ternyata gak bisa juga“.
Dengan tidak lupa saya curhat ke Bapak RT mengenai problem-problem tadi. Dan juga bahwa saya tidak mau bayar apapun ke pihak kelurahan (dan kantor walikota), kecuali pembayaran resmi (dengan harapan, RT tidak minta uang lelah).
Problem kedua: KTP habis masa berlaku, harus diurus di kantor walikota.
Rencananya, saya besok pagi mau melanjutkan lagi ke kelurahan dan walikota. Saya penasaran, seberapa sulitnya untuk mengikuti prosedur resmi tanpa keluar uang sepeserpun diluar biaya resmi.
Nanti akan saya update lagi jika ada perkembangan baru.

———————

Update:

Jumat, 8 Juli 2011:
Sekitar jam 9 pagi ke kelurahan dengan maksud meminta surat pengantar untk ke walikota agar dapat bayar denda ktp masa berlaku habis.
Ketemu salah satu pegawai kelurahan, serahkan berkas (termasuk surat pengantar yg dari RT/RW yg diminta). Saat akan dibuatkan, tidak beberapa lama saya dipanggil oleh pegawai tersebut.

Pegawai kelurahan (PK): “pak, suratnya gak bisa dibikin nih. Bapak dipanggil oleh bapak lurah (BL).”
Saya: “kenapa emang?”
PK: “gak tau nih. Masuk aja ketemu lurah”

Saya masuk dan bertemu bapak lurah. Setelah menerangkan maksud keinginan saya soal pembuatan ktp pindahan untuk istri saya, lalu ia berkata:

BL: “ini harusnya langsung foto aja dulu. Gimana mo bayar denda kalau ktp nya masih jakarta timur.”

Lalu saya jelaskan kronologis kejadian pada hari kamis.
Ia melanjutkan, (tapi bukan ke saya langsung)

BL: “warga jangan dibikin bingung dong. Kasian. Pak haji mana? (Bertanya ke pegawai kelurahan lainnya).
PK: “lagi ada rapat di kecamatan pak”

Pak lurah berkata ke saya,

BL: “ya sudah, tungguin dulu deh pak”
Saya: “oke”

Setelah menunggu lebih dari 1/2 jam, saya masuk lagi bertemu pak lurah.

Saya: “jadi gimana pak?”
BL: “pak haji nya blom datang nih. Gini aja deh, tinggalin dulu aja berkasnya ke saya. Nanti saya konsultasikan sama pak haji”
Saya: “kapan saya balik lagi? Sore ini?”
BL: “senin aja”
Saya: “oke pak. Senin pagi saya balik. Ngomong2, pak haji itu namanya siapa?”
BL: “Haji Mulyandi”
Saya: “jabatannya apa pak?”
BL: (sempat terdiam) “urusan ktp. Bagian kependudukan”
Saya: “ok, terima kasih pak”

 

Senin, 11 Juli 2011:

Pukul 10:15 saya tiba di Kantor Kelurahan. Maksud hati bertemu kembali Bapak Lurah, ternyata beliau sedang keluar. Ada acara di Rusun (Rumah Susun) Petamburan. Lalu saya menanyakan keberadaan Bapak Haji Mulyandi (BHM) dari bagian yang mengurusi kependudukan (KTP) yang hari kamis kemarin meminta uang Rp. 30.000 ke saya untuk pembayaran denda, ternyata ada di tempat. Langsung saja saya menemuinya. Rupanya beliau sudah mengenali saya.

 

BHM: “urusan ktp ibu muna ya?”
Saya: “betul pak. jadi gimana?”
BHM: “suratnya sudah dibikin, tinggal tanda tangan pak Lurah”
Saya: “surat apa pak?”
BHM: “surat untuk ke walikota. waktu jum’at kemarin saya kembali sore ke kantor, bapak lurah sudah tidak ada. saya rapat di kecamatan”
Saya: “oooh itu. iya pak. saya nunggu bapak pagi, tidak ada. kata pak lurah, suruh tinggalin aja berkasnya”
BHM: “iya. ini tinggal tunggu tanda tangan pak lurah. anak buah saya lagi ‘kejar’ ke Rusun buat minta tanda tangan”
BHM: “tapi, begini pak. ini juga kalau bapak ikhlas ya. bayar denda ke walikota kan 10.000, nah kemarin saya bilang kan kalau mau ‘dibantu’ bayar 30.000. gimana kalau sekarang bapak bayar 20.000 saja untuk ‘dibantu’. itu juga kalau bapak ikhlas”
Saya: “nggak pak. saya mau urus sendiri langsung ke walikota”
BHM: “baiklah kalau gitu. tunggu di depan ya. nanti kalau sudah dapat tanda tangan pak lurah, dipanggil”
Saya: “oke pak”
Saya ke depan, merokok dan menunggu selama kurang lebih 15 menit. Lalu saya dipanggil.
BHM: “ini berkasnya pak. langsung aja ke walikota”
Saya: “makasih pak. ini saya ke walikota jakpus kan?” (memastikan, bukan ke walikota jaktim, asal ktp istri)
BHM: “iya bener”
Saya: “nanti saya kesana ke bagian apa pak?”
BHM: “ke gedung blok B, lantai 1?
Saya: “ke loket atau gimana? atau saya harus bertemu siapa pak?”
BHM: “pokoknya ke situ deh” (bicara, tapi matanya tidak ke arah saya)
Saya: “oke deh pak. makasih”

Sebenernya saya tahu kemana harus pergi. Karena sebelumnya saya sudah mencari informasi di internet. Tetapi sengaja saya tanyakan, dengan harapan saya mendapatkan informasi yang jelas dari pihak Kelurahan. Bisa dibayangkan, jika orang yang tidak tahu sama sekali, maka akan kebingungan nantinya di gedung Walikota.
Selanjutnya, meluncurlah saya ke kantor Walikota Jakarta Pusat dengan membawa berkas-berkas termasuk surat pengantar yang sudah diberikan oleh kelurahan. Tujuan saya adalah loket pelayanan kependudukan dan pencatatan sipil.
Walaupun tahu tempatnya, bukan berarti mudah untuk mencari loket tersebut. Saya harus beberapa kali menanyakan lokasinya kepada petugas keamanan di setiap pintu masuk. Dari jawaban terakhir yang saya terima adalah saya harus ke loket 4 di gedung blok B lantai 1, dekat Bank DKI.
Loket tersebut ada di pojokan sebelah kanan. Hanya ada 2 orang yang sedang berurusan. Tidak berapa lama, saya mendapat giliran. Serahkan berkas, tidak sampai 5 menit berkas saya dikembalikan dengan surat tambahan dari kantor Walikota beserta tanda pembayaran retribusi keterlambatan pendaftaran/pencatatan/pelaporan kependudukan dan catatan sipil WNI. Petugas tersebut meminta uang sebesar Rp. 10.000 kepada saya, sesuai dengan yang di tanda pembayaran restribusi itu. Selesai. Prosesnya cepat, tidak berbelit-belit.
Saya pun kembali ke kelurahan. Waktu menunjukkan pukul 12 kurang 10 menit. Bapak Haji Mulyandi sudah bersiap-siap untuk istirahat makan siang. Berkas saya berikan kepada beliau. Setelah diperiksa, istri saya disuruh datang sekitar pukul 2 siang untuk langsung foto.
Sekalian saya tanya untuk proses pembuatan Kartu Keluarga (KK). Setelah dijelaskan berkas yang dibutukan untuk pembuatan KK tersebut, saya tanyakan berapa biaya resminya. Dengan sedikit lemah, beliau bilang sebesar Rp. 3.000.
Dalam hati saya tertawa melihat raut muka beliau ketika menjawab hal tersebut. Saya pun langsung meninggalkannya dan pulang. Semoga saja nanti tidak ada pungutan yang dikenakan untuk pembuatan KTP. Karena pada dasarnya, pembuatan KTP adalah gratis. Saya akan update lagi nanti setelah semuanya selesai.

 

 

Mau ‘Ngelatih’ Senam

Lagi kepikiran soal obrolan singkat dengan kawan saya yang tinggal dekat rumah, Helmi. Obrolan ini berlangsung beberapa tahun yang lalu ketika berjumpa dia di suatu pagi.

Saya (N): “Mi, mau kemane lo pagi-pagi?”

Helmi (H): “Oh, biasa nih ip. Mau ngelatih senam”

N: “Hah? Dari kapan lo jadi pelatih senam? Gile aje, gak sangka gue. Ngelatih senam dimane, Mi?”

H: *Sambil tertawa* “Itu di puteran depan RS Pelni..”

N: *Sempat bingung beberapa saat* “Oooooh, hahahaahaha. Bisa aje lo”

Rupanya yang dimaksud adalah menjadi pak ogah di putaran jalan. Ada-ada saja. Kami pun tertawa singkat, dan dia melanjutkan perjalanannya menuju tempat “latihan senam”.

Menerapkan Sistem Quota, Layanan Internet Smart Telecom Tidak Lagi Hebat

Smart Hebat, Hemat.

Itulah moto dari salah satu produk PT. Sinarmas Telecom, Smart Telecom (atau bisa disingkat, Smart). Yang merupakan operator CDMA di Indonesia yang cukup terkenal karena memberikan akses internet cepat dan murah serta tidak ada batasan, alias unlimited. Awalnya, tidak ada batasan pada penggunaan merupakan salah satu fitur primadona, tentunya disamping tarif murah dan kecepatan yang ditawarkan pada koneksi EVDO Rev-A milik Smart.

Andi Bachtiar Yusuf itu Pendukung Rasisme?

Seorang sutradara film di Indonesia yang (ngakunya sih) nasionalis,  ternyata seorang yang juga rasis. Dalam hal ini rasis terhadap orang keturunan arab, didalam penggunaan bahasa. Figur publik (kata orang, tetapi tidak ada artikel mengenai dirinya di Wikipedia Bahasa Indonesia) ini, pada akun twitter-nya mengganti awalan kata yang seharusnya menggunakan huruf “P” dengan huruf “F”, yang mana sudah menjadi rahasia umum di Indonesia bahwa itu untuk menunjukkan pelecehan terhadap orang keturunan arab di Indonesia. Hal itu dikarenakan tidak ada penggunaan huruf P dalam bahasa arab.

Ya, saya Warga Negara Indonesia yang kebetulan keturunan dari ras Arab. Tetapi, apakah pantas pelecehan tersebut keluar dari seorang (yang katanya) figur publik di Indonesia? Saya tidak tersinggung atas pelecehan itu, saya sudah anggap biasa. Tetapi ketika seorang (yang katanya) figur publik melontarkannya di ranah publik juga, rasanya anda sekalian bisa nilai sendiri bagaimana orang yang seperti ini.

Dan juga, sebagai orang yang juga suka dengan sepakbola. Banyak tulisan-tulisan dia soal sepakbola di-blog-nya. Tetapi, masa sih dia tidak tahu ada istilah “Let’s Kick Racism Out of Football” yang digembar-gemborkan dalam sepakbola.

Oh ya, dari sepakbola inilah “hubungan mesra” kami ini bermula, jadi tidak ada salahnya saya mencantumkan soal rasisme di dalam sepakbola di atas.

Update: Rupanya rekam jejak Andi Bachtiar Yusuf dalam hal rasisme ini sudah ada yang cukup terkenal. Salah satunya berhubungan dengan film yang dibuatnya, Romeo & Juliet. Yang menjadi kontroversi di Bandung, selain karena perseteruan antara Viking (pendukung klub sepakbola Persib Bandung) dan The Jak (pendukung klub sepakbola Persija Jakarta), karena menyudutkan salah satu suku bangsa di Indonesia. Dalam hal ini suku Sunda.

Teloris

Teloris

n orang yang menjual telur alias tukang telur.

Gambar dari sini

Breaking News, HM Soeharto Meninggal Dunia

Mantan Presiden RI pertama kedua, HM Soeharto, meninggal dunia pada pukul 13:10 WIB. Seperti yang diberitakan paling pertama di Metro TV.

????? ?????? ??????? ???????? ??????????

Innalillahi wa innalillahi roji’un.

Poliandri Vs Poligami

POLIANDRI or POLIGAMI

Waktu itu lagi asiik ngbrol ama temen gue, cewek
yang rencananya mau nikah bulan2 ini …
sampe akhirnya ngomongin tentang poligami ….
komentarnya memang agak nyebrang … malahan jadi
ngebahas poliandri…..

katanya gini nih …

“Menurut daku, yang diperlukan oleh seorang
anak bukanlah siapakah
lelaki yang menyumbangkan seciprat sperma untuk
membuat dirinya, tapi
siapakah yang berperan sebagai sosok seorang ayah
sesungguhnya dalam pertumbuhannya.

Justru dengan sistem 4 ayah 1 ibu, anak-anak
diuntungkan karena lebih banyak yang melindungi mereka jika ada apa-apa.
Bahkan mungkin ada baiknya jika ke-empat ayah tersebut mengatur shift
kerja mereka sehingga setidaknya ada 1 ayah yang selalu berjaga di rumah
setiap saat. Menjaga keluarga dari marabahaya. (Misal: Kalau ada
perampok yang masuk rumah, setidaknya ada seorang lelaki dewasa yang akan
melindungi ibu dan anak-anaknya)

Selain itu, 4 ayah berarti adanya 4 tulang
punggung keluarga. (EMPAT saudara-saudara! ! E-M-P-A-T!! bukan 1 atau 2 atau
3, tapi EMPAT sumber pemasukan keluarga!!) Jadi secara keseluruhan,
kesejahteraan keluarga menjadi lebih baik.

Biaya perawatan anakpun lebih terjamin. Jika yang
1 terkena PHK, masih ada 3 lainnya yang bekerja. Tentunya yang terkena
PHK itu juga akan merasa gengsi dan malu terhadap 3 suami lainnya,
sehingga ia akan berusaha mendapatkan kerja secepatnya.

Poliandri juga baik untuk mengurangi jumlah
penduduk. Sebab, walaupun ada 4 pejantan yang siap membuahi, tapi pabrik
anaknya cuma 1!! Jadinya ya dalam jangka panjang akan mengurangi jumlah
penduduk dan anak-anak yang dibuat pun diharapkan lebih “berkualitas”
.. (Ya itulah, karena biaya perawatan anak datang dari 4 sumber
pemasukan) Intinya: turunkan kuantitas, naikkan kualitas!!

Kalau poligami bisa mengakibatkan persaingan di
antara para istri dan anak-anaknya, poliandri mungkin bisa memberikan
efek perdamaian. Sebab pada saat seorang anak tidak jelas siapa ayahnya
(Pokoknya di antara 4 itu! Eh, diluar 4 itu juga bisa ding), maka para
ayah akan tetap memberikan perhatian kepada si anak. Masing-masing
ayah akan menganggap anak tersebut adalah anaknya. (Kalau di
poligamikan, bisa ada resiko setiap anak membangga-banggakan ibunya doang dan
menjelekkan ibu dari anak yang lain)

Para ayah tersebut punya teman untuk ngobrol malam-malam, teman
untuk main catur, main panco (Kalau mau juga bisa buat
turnamen kecil- kecilan) ataupun main kartu (Pas 4 orang! Cocok
buat maen capsa, maen mahjong juga bisa). Nonton bola di rumah pun
menjadi lebih semarak!

Dengan sistem 4 suami pula para pria bisa belajar
menekan rasa egoisnya dengan saling berbagi, bertoleransi dan bersabar.
Ingat, Tuhan suka orang sabar.

Rewelnya istri pun menjadi lebih berkurang.
Bayangkan jika seorang suami punya 4 istri. Maka dalam 24 jam, akan ada 4 orang
istri yang berpotensi untuk mengomel dan mengeluh di kuping suami. Tapi
JIKA 4 suami 1 istri, maka rata-rata kemungkinan masing-masing suami
di-rese- in istri adalah maksimal 6 jam sehari. (Dengan asumsi ngawur bahwa
sang istri mengomel selama 24 jam non-stop)

Sudah menjadi pengetahuan umum pula jika umur
harapan hidup pria lebih pendek. Jadi, setidaknya jika seorang suami mati,
sang istri tidak akan langsung menjadi janda, masih ada 3 orang suami
yang menemani.
Sementara jika sang istri yang mati, maka para
suami bisa memilih untuk segera kawin lagi atau menjomblo. (Point bebek di
sini: Kalau seorang wanita menjadi janda, maka ia lebih sulit untuk
mencari suami daripada seorang duda mencari istri)

Sekarang mari kita tinjau dari sudut seksualitas.
Sudah menjadi keluhan umum di rubrik konsultasi kalau banyak wanita
gagal mencapai orgasme karena suami cepat selesai atau tidur begitu saja
setelah mencapai puncak. Padahal pada umumnya, wanita itu lebih
lambat panas daripada pria.

Nah. dengan adanya 4 suami, maka suami-suami
tersebut bisa ber- estafet ria. Jika istri lambat panas dan blum panas-panas
juga, maka jangan kuatir, masih ada rekan anda yang akan meneruskan
perjuangan membawa istri menuju ke puncak kenikmatan. (Menuju puncak,
gemilang cahaya, mengukir cinta, SEJUTA RASA.. Kyaaaaaaa.!! )

Poliandri secara sekilas juga sesuai dengan kodrat
seks manusia. Laki-laki pada umumnya hanya dapat orgasme 1 kali lalu
keabisan tenaga,sementara wanita bisa orgasme berkali-kali, bahkan
organ seksualnyapun tidak usah membutuhkan persiapan terlalu banyak
seperti halnya laki-laki. ( Kan
harus nungguin Joy-sticknya berdiri dulu.)

Jika wanita berhalangan pun (Entah apapun
alasannya.), laki-laki bisa dengan mudah swalayan karena organ seksnya terbuka
dan menggantung di luar tubuh. (Tidak seperti perempuan yang organnya
lebih tersembunyi, jadi lebih ribet kalau mau swalayan)

Akhir kata, saya menyimpulkan (lagi-lagi) secara
SEPIHAK bahwa poliandri “lebih baik” daripada poligami.”

Nah loh …………
Ada pepatah mengatakan ;

” Laki2 seperti botol coca cola : biar isi
berceceran dimana2 yang penting botol dipulangin”.

” Perempuan seperti kulkas : biarpun gak
kemana2, tapi dpt menyimpan beberapa botol sekaligus di dalam nya”.

PS: Didapat dari mailing list lapanpuluhan (80an), tanpa diedit.

Update, 6 Maret 2008:

Artikel ini milik bebekrewel.com. Terima kasih atas koreksi yang punya artikel.

Politik Tempe/Tahu

Tempe/tahu makanan utama sebagian rakyat (terutama yang di pulau Jawa). Hati-hati pemerintah, kalian bisa kesandung karena masalah kedelai ini. Rakyat bisa mengamuk kalau sampai urusan perut yang paling akhir menghilang dari peredaran karena mahalnya bahan dasar pembuatan tempe/tahu.

Cerita Dari Pesta Blogger 2007 & Kopdar Kampung Gajah

Tulisan ini memang sudah terlambat. Seharusnya saya sudah menulis ini sejak 1 minggu yang lalu. Namun karena bermasalah dengan koneksi ke WordPress, maka tulisan ini baru hari ini saya buat.

Rupanya Pesta Blogger 2007 ini cukup berkesan untuk saya. Karena selain turut serta dalam acara yang besar untuk blogger Indonesia ini, saya juga bertemu muka dengan sebagian anggota dari Kampung Gajah, yaitu semua milis yang bernama Id-Gmail. Selama ini saya hanya tahu mereka melalui milis tersebut.

Alhasil, Pesta Blogger 2007 itu sendiri menjadi tambah heboh dengan kehadiran komunitas ini. Jumlah yang cukup banyak dibanding dengan komunitas lain yang datang, dan tentunya keceriaan yang sangat positif yang ditunjukkan oleh anggota dari Kampung Gajah ini.

Pesta Blogger 2007 dihadiri tidak kurang dari 470 orang, dari seluruh Indonesia, bahkan ada yang datang dari negara tetangga. Diawali dengan pembukaan oleh ketua panitia PB 2007, Enda Nasution. Lalu dilanjutkan dengan sambutan dari Menteri Kominfo, M. Nuh. Setelah itu, berbagai macam session dilakukan, dari obrolan tentang iklim blog di Indonesia sampai dengan pemilihan blog-blog favorit.

Sore harinya, saya ikut berkopdar halal bi halal dengan Kampung Gajah ke rumah Heri di bilangan Tanah Abang. Jarak yang tidak begitu jauh di tempuh hanya dengan berjalan kaki oleh sebagian dari kami. Namun ada juga yang sial, karena harus tersasar ke tempat lain yang sebenarnya tidak terlalu jauh dengan tempat tinggal Heri. Mungkin juga disebabkan oleh mis-komunikasi. Tapi sudahlah, saya tidak akan menyebut nama-nama mereka yang tersasar.
Di rumah tersebut dipenuhi oleh 30 orang Gajah-gajah (sebutan untuk anggota Kampung Gajah). Kami berkumpul sampai kira-kira pukul 19:00.

Setelah dari tempat Heri, kami (ada juga yang tidak) meluncur ke Apartement Semanggi di Slipi untuk makan. Saya yang kebetulan harus menghadiri resepsi teman pada pukul 20:00, harus berpisah setelah menunjukkan arah ke tempat tersebut kepada beberapa orang dalam 1 mobil. Setelah itu langsung pulang ke rumah, yang kebetulan tidak terlalu jauh.

Pulang kondangan, saya kembali ke tempat itu (Apt. Semanggi), tepatnya di kamar Pak Andika. Dan berkumpul kembali sampai tengah malam.

Terima kasih untuk panitia PB 2007 yang sudah bersusah payah untuk memfasilitasi acara ini. Serta terima kasih untuk Heri, Pak Andika dan seluruh anggota Kampung Gajah.

Sampai jumpa di Pesta Blogger berikutny (mudah-mudahan terselenggara kembali tahun depan).

Powered by ScribeFire.

Pesta Blogger 2007, Pestanya Blogger Indonesia

Sabtu besok, 27 Oktober 2007, para blogger Indonesia akan ikut serta dalam suatu hajatan besar antar blogger berskala Nasional. Yang bertempat di Blitz Megaplex, di kawasan Bundaran HI, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Saya sudah melakukan reservasi via email ke pihak panitia Pesta Blogger 2007. Dan untuk registrasi ulang, harus datang sepagi mungkin kesana. Karena antusias para blogger Indonesia yang besar, namun tidak berimbang dengan ketersediaan tempat. Hal itu bisa dimaklumi. Kapasitas tempat hanya 500 orang, namun jumlah peminat lebih banyak dari kapasitas yang ada.

Acara itu sendiri akan dimulai sekitar pukul 10:00 WIB sampai dengan pukul 15:00 WIB.
Khusus untuk warga Kampung Gajah, acara mungkin akan dilanjutkan dengan halal bi halal Kampung Gajah yang bertempat di rumah salah satu warga, Hericz, dikisaran Tanah Abang.

Sampai bertemu di Pesta Blogger 2007!

Definisi Ngejunk

Ngejunk = Nge-sampah

BRTI: "Kami Sedang Membuat Kebijakan Perihal Sms Premium,Spam, dan Kejahatan"

Saya pernah kirim komplain keluhan mengenai sms spam dari operator seluler di Indonesia kepada Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) via situs BRTI.

—–Original Message—–
From: brtiorid@brti.or.id [mailto:brtiorid@brti.or.id]
Sent: 19 Juni 2007 17:56
To: info@brti.or.id
Subject: [ Keluhan ]

Pengirim : Naif

Email : naifmuh.alas@yahoo.com

Saya pengguna ESIA dan TELKOMSEL (Simpati)

Mengenai Spam sms yang dikirimkan oleh operator seluler, baik gsm maupun cdma tersebut. Hal ini sudah masuk ke tahap keterlaluan, dalam 1 hari itu bisa sampai 5 sms per operator. Saya sebagai konsumen merasa hak-hak saya dilecehkan, karena menurut saya ini masalah privasi yang diabaikan oleh pihak operator. Saya sudah mencoba untuk menelpon ke CSO dari masing-masing operator untuk menghentikan sms-sms sampah yang dikirimkan setiap hari, namun sampai detik ini, masih saja dikirimkan. Sebenarnya bukan saya saja yang merasa jengkel dengan ulah operator, sudah banyak yang jengkel. Contoh terbaru ada di http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=2769 Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya. Saya mohon kepada BRTI sebagai regulator yang memiliki wewenang untuk menindak operator.

Saya sebagai konsumen tidak berdaya diperlakukan semena-mena oleh operator.

Dan apakah ada regulasi untuk menegur operator dalam masalah sms sampah ini?

Saya mengharapkan mendapat jawaban dari BRTI secepatnya. Terima kasih

Naif Muh. Al’as

Dan mendapatkan jawaban dari pihak BRTI setelah 2 minggu kemudian.

Terima kasih telah menghubungi BRTI.

Saat ini BRTI dalam proses tahap pembuatan kebijakan perihal SMS Premium dan layanan SMS Spam atau threat/kejahatan. BRTI melakukan koordinasi baik internal departemen juga eksternal dengan pihak-pihak terkait. Semoga dalam waktu dekat akan segera dapat berhasil guna menjadi sebuah Peraturan Menteri.

Salam,

info@brti.or.id

Walaupun cukup lama mendapatkan balasan dari BRTI. Tapi cukuplah untuk saya, karena dengan membalas keluhan saya, berarti BRTI tidak men-cuek-an masukan/kritik tentang operator dari para pengguna seluler di Indonesia.

Sekarang kita tunggu saja realisasi mengenai regulasi yang sedang dipersiapkan oleh BRTI mengenai sms spam tersebut.

404 Not Found

Not Found

The requested URL /wp_links/wp_links.php was not found on this server.

Additionally, a 404 Not Found error was encountered while trying to use an ErrorDocument to handle the request.

Powered by WordPress | iCellPhoneDeals.com Offers Free Wireless Deals. | Thanks to Bestincellphones.com Verizon Cell Phones, Best CD Rates Online and Fat Burning Furnace Review