Karena satu dan lain hal, baru sekarang KTP istri pindah alamat saya (Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat). Surat-surat di tempat asal KTP istri udah diurusin. Cuma ada 2 problem (so far) yang timbul belakangan.
Hari ini saya ke kelurahan tempat tinggal saya bersama istri untuk mengurus pindahan KTP tersebut. Sampai disana ternyata dibilang surat pindahnya ada yangg kurang, yaitu tanda tangan dari kantor kecamatan asal KTP istri saya (Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur).
Padahal disurat itu tidak ada kolom “mengetahui” atau apapun untuk tanda tangan kecamatan. Tetapi karena dibilang itu wajib ditanda tangani dan merupakan masuk aturan resmi, baiklah saya akan urus ke kantor kecamatan tersebut.
Walaupun sebenernya bukan kesalahan kita, karena orang kelurahan asal KTP tidak memberi tahu apa-apa mengenai tanda tangan ini.
Karena sudah mepet jam makan siang, percuma juga saya pergi, karena tahu sendirilah bagaimana perilaku oknum-oknum aparat negara mengenai jam istirahat. Jam 13 kurang, saya berangkat ke kecamatan tersebut. Setelah bingung memutar sana-sini untuk mencarai dimana letaknya, baru ketemu kantor kecamatannya. Ternyata lagi dibongkar habis. Kantornya pindah ke rumah tidak jauh dari situ. Samapi disana, masih agak berantakan memang (bukan agak lagi sih). Tanya di depan sama orang yang lagi duduk-duduk, disuruh langsung ke dalam.
Nah, di dalam saya tanya lagi di mana bagian yang mengurusi tanda tangan itu. Suratnya diminta (saya bundel sekalian dengan persyaratan lainnya: fotokopi >> buku nikah, ktp muna, ktp gue). Disuruh nunggu. 15 menit nunggu, tidak ada perkembangan apa-apa.
Saya lalu tanya ke pegawai kecamatan (PK) tersebut,
Saya: “masih lama, pak?” ..
PK: “ini yang tanda tangan gak ada semua”.
Saya: “lah emang ada berapa orang?”
PK: “ada 4 orang, camat, wakil camat, sekretaris camat, (1 lagi gue lupa dia bilang apa gitu). lagi pada repot ngurusin urusan pindahan ini”
Saya: “lah kenapa gak diurusin sebelum pindah, jadi bisa langsung kerja lagi”
PK: “gak bisa pak..”
Saya tidak melanjutkan lagi, sudah terlanjur malas.
Tunggu punya tunggu, hampir 1 jam dari tibanya saya di tempat itu. Akhirnya surat itu ditanda tangani juga. Saya dipanggil buat ambil surat tersebut, sambil dia minta uang.
Saya: “duit apaan pak?”
PK: “ya biasalah… buat ini itu (sambil nunjukin kantor, mungkin maksudnya “renovasi”)
Saya: “ini gratis kan pak?”
PK: “iya”
Saya: “oke..terima kasih” (sambil saya ambil berkas tersebut dan gue jalan tanpa kasih muka lagi)
Sebenernya ingin saya panjangin persoalan yang dia minta uang, akan tetapi karena saya terburu-buru mau langsung ke kelurahan Petamburan, jadinya malas deh. Lama lagi nanti.
Problem pertama: tanda tangan kecamatan asal pindahan.
Sampai di rumah, langsung saya bawa istri ke kelurahan. Dengan harapan bisa langsung diproses dan foto untuk KTP.
Ternyata saya salah. Muncul problem kedua. Setelah berkas istri diperiksa, ternyata KTP-nya sudah habis masa berlakunya dari tahun 2010.
Orang kelurahan (OK) tersebut bertanya.
OK: “ktp nya mati nih. mesti bayar denda”
Saya: “oh kena denda ya? berapa pak denda resminya?”
OK: “10rb. tapi itu bapak urus sendiri ke walikota. kalo mau dibantuin, 30rb.”
Saya: “mahal bener. saya urus sendiri aja pak. apa yg saya butuhin buat ngurus?”
OK: “surat pengantar RT dan RW, trus bawa kemari minta pengantar (kalo gak salah) untuk PM1. bawa ke walikota”
Saya: “itu surat yg dari kelurahan, bayar gak pak? berapa? resmi apa kagak”
OK: (sempet diem beberapa saat) “wah saya gak tau. tanya aja sendiri ke dalam”
Saya: “lho gimana pak, bapak kan orang kelurahan. masa gak tau. bapak harusnya tau info gitu. jadi, bayar apa nggak nih pak? berapa kalo bayar resmi?”
OK: “saya gak tau, tanya sendiri deh. beda bagian soalnya.”
Saya: “baiklah pak, saya ini mo urus semuanya secara resmi menurut aturan pemerintah. termasuk biayanya (disini gue tekankan kalimatnya). skarang saya ke rt-rw”
Pergilah saya bersama istri ke rumah Bapak RT untuk minta dibuatkan surat pengantar (ke RT dulu, baru ke RW). Ternyata suratnya sedang kosong/habis (entah benar apa tidak). Saya disuruh kembali lagi jam 5 sore. Dalam hati, “Ah kampret!, gue buru2 biar bisa kekejar semua hari ini, ternyata gak bisa juga“.
Dengan tidak lupa saya curhat ke Bapak RT mengenai problem-problem tadi. Dan juga bahwa saya tidak mau bayar apapun ke pihak kelurahan (dan kantor walikota), kecuali pembayaran resmi (dengan harapan, RT tidak minta uang lelah).
Problem kedua: KTP habis masa berlaku, harus diurus di kantor walikota.
Rencananya, saya besok pagi mau melanjutkan lagi ke kelurahan dan walikota. Saya penasaran, seberapa sulitnya untuk mengikuti prosedur resmi tanpa keluar uang sepeserpun diluar biaya resmi.
Nanti akan saya update lagi jika ada perkembangan baru.
———————
Update:
Jumat, 8 Juli 2011:
Sekitar jam 9 pagi ke kelurahan dengan maksud meminta surat pengantar untk ke walikota agar dapat bayar denda ktp masa berlaku habis.
Ketemu salah satu pegawai kelurahan, serahkan berkas (termasuk surat pengantar yg dari RT/RW yg diminta). Saat akan dibuatkan, tidak beberapa lama saya dipanggil oleh pegawai tersebut.
Pegawai kelurahan (PK): “pak, suratnya gak bisa dibikin nih. Bapak dipanggil oleh bapak lurah (BL).”
Saya: “kenapa emang?”
PK: “gak tau nih. Masuk aja ketemu lurah”
Saya masuk dan bertemu bapak lurah. Setelah menerangkan maksud keinginan saya soal pembuatan ktp pindahan untuk istri saya, lalu ia berkata:
BL: “ini harusnya langsung foto aja dulu. Gimana mo bayar denda kalau ktp nya masih jakarta timur.”
Lalu saya jelaskan kronologis kejadian pada hari kamis.
Ia melanjutkan, (tapi bukan ke saya langsung)
BL: “warga jangan dibikin bingung dong. Kasian. Pak haji mana? (Bertanya ke pegawai kelurahan lainnya).
PK: “lagi ada rapat di kecamatan pak”
Pak lurah berkata ke saya,
BL: “ya sudah, tungguin dulu deh pak”
Saya: “oke”
Setelah menunggu lebih dari 1/2 jam, saya masuk lagi bertemu pak lurah.
Saya: “jadi gimana pak?”
BL: “pak haji nya blom datang nih. Gini aja deh, tinggalin dulu aja berkasnya ke saya. Nanti saya konsultasikan sama pak haji”
Saya: “kapan saya balik lagi? Sore ini?”
BL: “senin aja”
Saya: “oke pak. Senin pagi saya balik. Ngomong2, pak haji itu namanya siapa?”
BL: “Haji Mulyandi”
Saya: “jabatannya apa pak?”
BL: (sempat terdiam) “urusan ktp. Bagian kependudukan”
Saya: “ok, terima kasih pak”
Senin, 11 Juli 2011:
Pukul 10:15 saya tiba di Kantor Kelurahan. Maksud hati bertemu kembali Bapak Lurah, ternyata beliau sedang keluar. Ada acara di Rusun (Rumah Susun) Petamburan. Lalu saya menanyakan keberadaan Bapak Haji Mulyandi (BHM) dari bagian yang mengurusi kependudukan (KTP) yang hari kamis kemarin meminta uang Rp. 30.000 ke saya untuk pembayaran denda, ternyata ada di tempat. Langsung saja saya menemuinya. Rupanya beliau sudah mengenali saya.
BHM: “urusan ktp ibu muna ya?”
Saya: “betul pak. jadi gimana?”
BHM: “suratnya sudah dibikin, tinggal tanda tangan pak Lurah”
Saya: “surat apa pak?”
BHM: “surat untuk ke walikota. waktu jum’at kemarin saya kembali sore ke kantor, bapak lurah sudah tidak ada. saya rapat di kecamatan”
Saya: “oooh itu. iya pak. saya nunggu bapak pagi, tidak ada. kata pak lurah, suruh tinggalin aja berkasnya”
BHM: “iya. ini tinggal tunggu tanda tangan pak lurah. anak buah saya lagi ‘kejar’ ke Rusun buat minta tanda tangan”
BHM: “tapi, begini pak. ini juga kalau bapak ikhlas ya. bayar denda ke walikota kan 10.000, nah kemarin saya bilang kan kalau mau ‘dibantu’ bayar 30.000. gimana kalau sekarang bapak bayar 20.000 saja untuk ‘dibantu’. itu juga kalau bapak ikhlas”
Saya: “nggak pak. saya mau urus sendiri langsung ke walikota”
BHM: “baiklah kalau gitu. tunggu di depan ya. nanti kalau sudah dapat tanda tangan pak lurah, dipanggil”
Saya: “oke pak”
Saya ke depan, merokok dan menunggu selama kurang lebih 15 menit. Lalu saya dipanggil.
BHM: “ini berkasnya pak. langsung aja ke walikota”
Saya: “makasih pak. ini saya ke walikota jakpus kan?” (memastikan, bukan ke walikota jaktim, asal ktp istri)
BHM: “iya bener”
Saya: “nanti saya kesana ke bagian apa pak?”
BHM: “ke gedung blok B, lantai 1?
Saya: “ke loket atau gimana? atau saya harus bertemu siapa pak?”
BHM: “pokoknya ke situ deh” (bicara, tapi matanya tidak ke arah saya)
Saya: “oke deh pak. makasih”
Sebenernya saya tahu kemana harus pergi. Karena sebelumnya saya sudah mencari informasi di internet. Tetapi sengaja saya tanyakan, dengan harapan saya mendapatkan informasi yang jelas dari pihak Kelurahan. Bisa dibayangkan, jika orang yang tidak tahu sama sekali, maka akan kebingungan nantinya di gedung Walikota.
Selanjutnya, meluncurlah saya ke kantor Walikota Jakarta Pusat dengan membawa berkas-berkas termasuk surat pengantar yang sudah diberikan oleh kelurahan. Tujuan saya adalah loket pelayanan kependudukan dan pencatatan sipil.
Walaupun tahu tempatnya, bukan berarti mudah untuk mencari loket tersebut. Saya harus beberapa kali menanyakan lokasinya kepada petugas keamanan di setiap pintu masuk. Dari jawaban terakhir yang saya terima adalah saya harus ke loket 4 di gedung blok B lantai 1, dekat Bank DKI.
Loket tersebut ada di pojokan sebelah kanan. Hanya ada 2 orang yang sedang berurusan. Tidak berapa lama, saya mendapat giliran. Serahkan berkas, tidak sampai 5 menit berkas saya dikembalikan dengan surat tambahan dari kantor Walikota beserta tanda pembayaran retribusi keterlambatan pendaftaran/pencatatan/pelaporan kependudukan dan catatan sipil WNI. Petugas tersebut meminta uang sebesar Rp. 10.000 kepada saya, sesuai dengan yang di tanda pembayaran restribusi itu. Selesai. Prosesnya cepat, tidak berbelit-belit.
Saya pun kembali ke kelurahan. Waktu menunjukkan pukul 12 kurang 10 menit. Bapak Haji Mulyandi sudah bersiap-siap untuk istirahat makan siang. Berkas saya berikan kepada beliau. Setelah diperiksa, istri saya disuruh datang sekitar pukul 2 siang untuk langsung foto.
Sekalian saya tanya untuk proses pembuatan Kartu Keluarga (KK). Setelah dijelaskan berkas yang dibutukan untuk pembuatan KK tersebut, saya tanyakan berapa biaya resminya. Dengan sedikit lemah, beliau bilang sebesar Rp. 3.000.
Dalam hati saya tertawa melihat raut muka beliau ketika menjawab hal tersebut. Saya pun langsung meninggalkannya dan pulang. Semoga saja nanti tidak ada pungutan yang dikenakan untuk pembuatan KTP. Karena pada dasarnya, pembuatan KTP adalah gratis. Saya akan update lagi nanti setelah semuanya selesai.